Rabu, 30 Desember 2015

KAMPUNG BUDAYA BETAWI SETU BABAKAN


PERKAMPUNGAN BUDAYA BETAWI SETU BABAKAN

pintu utama kampung budaya betawi

Apa yang ada dipikiran kalian tentang perkampungan ini ? mungkin kelihatannya “Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan” adalah sebuah perkampungan biasa saja. Dan hanya sebagian besar orang yang mengetahui tentang kampung ini.Kampung ini merupakan salah satu tempat yang masih melestarikan kebudayaan Betawi seperti ; rumah adat, makanan khas betawi ,kesenian betawi dan masih banyak lagi yang berkaitan dengan kebudayaan betawi .Lokasi kampung ini tidak jauh dari pusat Kota Jakarta yaitu terletak di Srengseng Sawah,Kecamatan Jagakarsa ,Jakarta Selatan ,Indonesia.
Dari perkampungan yang luasnya mencapai 289 hektar, 65 hektar diantaranya adalah milik pemerintah dimana yang baru dikelola hanya 32 hektar.Perkampungan ini didiami setidaknya 3000 kepala keluarga.Sebagian besar penduduknya adalah orang asli betawi yang sudah turun temurun  tinggal di daerah tersebut.Sedangkan sebagian kecil lainnya adalah para pendatang,seperti pendatang dari Jawa Barat,Jawa Tengah ,Kalimantan, dll yang sudah tinggal lebih dari 30 tahun di daerah ini.
danau kampung budaya betawi

Situ atau Setu Babakan merupakan danau buatan dengan area 32 hektar(79 akre) dimana airnya berasal dari Sungai Ciliwung dan saat ini digunakan untuk memancing bagi warga sekitarnya.Danau ini juga merupakan tempat untuk rekreasi air seperti memancing,sepeda air atau bersepeda mengelilingi tepian danau.
Setu Babakan ,sebagai sebuah kawasan Cagar Budaya Betawi,sebenarnya merupakan objek wisata yang terbilang baru.Peresmiannya sebagai kawasan Cagar Budaya dilakukan pada tahun 2004,yakni bersamaan dengan peringatan Hut DKI Jakarta ke-474.
rumah adat betawi (tampak dari luar)

rumah adat betawi (tampak dari dalam)

Untuk saat ini hanya beberapa rumah saja yang masih bertahan menggunakan bangunan khas Betawi ini.Banyak terlihat rumah-rumah warga yang sudah direnovasi menggunakan tipe-tipe rumah jaman sekarang ini atau yang disebut rumah minimalis.namun kita masih dapat melihat rumah khas Betawi ini ditempat tempat tertentu misalnya saja di tempat pengelola Kampung Budaya ini atau disepanjang jalan perkampungan pun masih dapat ditemukan rumah warga yang masih menggunakan ornament-ornamen  rumah khas betawi seperti pagar rumah atau dari segi atap meski sekarang sudah agak terlihat lebih modern.
Bahasa  sehari-hari yang digunakan pun menggunakan bahasa umum atau bahasa Indonesia tidak baku bukan menggunakan bahasa khas betawi contohnya “iya”  menjadi “iye”
Untuk pekerjaan warga di kampung ini pun beragam namun banyak di kawasan ini yang mencari keuntungan lewat berdagang di sepanjang tepian danau sebagai mata pencaharian mereka.khususnya menjual makanan khas betawi contohnya ; kerak telor ,dodol betawi , es goyang dan masih banyak lagi .
Di perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan ini kita bisa melihat kesenian-kesenian betawi ,biasanya di hari minggu itu banyak ditemukan anak-anak yang sedang latihan menari di panggung pagelaran atau bahkan Tarian yang disuguhkan untuk pengunjung sebagai hiburan . dan wilayah ini masih melakukan tradisi betawi seperti adat pernikahan,sunatan,akekah,hatam quran,nujuh bulan dan masih banyak lagi.
Sumber :
Survei langsung ke Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan dan Wawancara dari berbagai sumber .
Nama kelompok :
1.       Budi Novia
2.       Dian Retno Adya Pangestika
3.       I Putu Adhi
4.       Ledepri S
5.       Risa Pratiwi
Kelas : 1EA25

MANUSIA DAN KEGELISAHAN

1. Kegelisahaan dan Sumber-sumbernya

Pada prinsipnya manusia merupakan makhluk yang diarahkan oleh motivasi dan cita-citanya. Hampir semua tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai usaha untuk memuaskan hasrat biologis mereka. Tetapi tujuan itu sering sulit atau bahkan kemungkinan kecil untuk dicapai. Kegelisahan disini diartikan suatu kondisi dimana orang menghadapi halangan atau rintangan dalam mengatasi rintangan tersebut. Pada hakekatnya kegelisahan menunjuk pada motivasi yang terhalang dan dalam keadaan tak terpuaskan.

Banyak orang berpikir bahwa kegelisahan merupakan keadaan yang tak “diinginkan”. Tetapi para ahli jiwa berpikir bahwa kegelisahan merupakan kondisi hidup manusia, atau sebagai “kawan akrab” yang memberi stimulus kepada tingkah laku menusia. Kegelisahan yang tak terhindarkan disebabkan oleh kompleksitas manusia, lingkungan di mana ia tinggal, dan keterbatasan fisik dan jiwanya.

2. Makna Kegelisahan

Kegelisahan berasal dari kata gelisah, artinya resah, rasa tidak tentram, rasa selalu khawatir, tidak tenang (tidurnya), tidak sabar menunggu, cemas, dan sebagainya.

Menurut Sigmund Freud ada tiga macam kecemasan yakni: kecemasan obyektif, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral. Kecemasan neurotik itu dibedakan atas: kecemasan atas bayangan sendiri, kecemasan irrasional dan rasa gugup atau gagap.

Kecemasan moral, yaitu diakibatkan oleh sifat tamak, kikir, iri hati, dengki, dan sifat-sifat lain yang sangat tidak terpuji baik di hadapan sesama manusia, apalagi di hadapan Tuhan pencipta alam dan seluruh isinya. Dengan adanya sifat ini manusia akan mengalami rasa khawatir, takut, cemas, bahkan putus asa.

Sebab-sebab kegelisahan pada hakikatnya ialah karena takut akan kehilangan, hak nama baik, dan sebagainya.

Untuk mengatasi kegelisahan, kita harus bersikap tenang, selain itu kita harus pasrah, percaya dan berlindung kepada kekuasaan Tuhan.

3. Makna Keterasingan

Keterasingan berasal dari kata terasing, dan dari kata dasar asing, artinya sendiri, tidak kenal orang, kata terasing berarti tersisih dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain atau terpencil.

Keterasingan umumnya terjadi karena sikap sombong, angkuh, pemarah, suka berkelahi dan sikap rendah diri. Sebab sikap rendah diri itu bermacam-macam antara lain : cacat fisik, sosial ekonomi, pendidikan atau pengalaman, dan perbuatan yang tidak dapat diterima oleh masyaraka. Dalam kehidupan banyak contoh hidup keterasingan ini, karena keterasingan itu merupakan bagian hidup manusia.

Bila direnungkan dalam-dalam orang hidup dalam keterasingan itu pada hakikatnya karena takut akan kehilangan haknya: yaitu hak hidup, hak nama baik, atau harga diri, hak memiliki sesuatu, dan hak-hak manusia yang lain.

4. Makna Kesepian

Kesepian berasal dari kata sepi, akhirnya sunyi, lengang, tidak ada apa-apa, tidak ada siapa-siapa, kurang pembeli (dagang), tidak banyak tamu, dan lain-lain.

Kesepian adalah bagian hidup manusia, tiap orang pernah mengalami rasa kesepian. Lama atau tidak perasaan sepi itu singgah di hati bergantung kepada masalah yang menimpa dan jiwa orang yang megalaminya.

Orang mengasingkan diri sehingga kesepian mungkin karena kesombongannya, mungkin pula karena sikap rendah diri. Tetapi sebab utama kesepian itu ialah manusia takut kehilangan hak hidup atau hak memiliki nama baik (harga diri).

5. Makna Ketidakpastian

Ketidakpastian berasal dari kata tidak pasti artinya tidak menentu pikirannya kacau, tidak dapat berkonsentrasi, bingung, tidak dapat berpikir dengan baik.

Orang yang tidak dapat berpikir dengan baik itu biasanya karena mentalnya terganggu. Gangguan mental itu bermacam-macam tanda-tandanya, misalnya obsesi, kompulsi, phobia, delusi, histeria, halusinasi, emosi, dan sebagainya. Orang yang sedang dilanda tanda-tanda itu pikirannya kacau, tidak dapat berpikir dengan baik. Andaikata bisa berpikir dengan baik, makan waktu cukup lama.

Untuk mengatasi atau untuk menghilangkan pikiran yang kacau itu perlu dicari penyebabnya, andaikata telah diketahui penyebabnya tetap masih sakit, penderita perlu diajak pergi atau pergi sendiri ke psikolog.

Daftar pustaka : Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta

Selasa, 22 Desember 2015

MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB

1. Manusia dan Tanggung Jawab

Pengertian yang kita peroleh sehari-hari untuk kata "pertanggungjawaban" dari kata "tanggung jawab" yaitu beban (kejiwaan) yang melandasi pelaksanaan kewajiban (ataudalam melakukan kewajiban) dari tugas tertentu.
Kesanggupan seseorang untuk melaksanakan suatu tugas wajib (atau lazimnya disebut kewajiban) yang diberikan kepadanya, dapat dikatakan bahwa ia bertanggung jawab, khususnya bertanggung jawab terhadap selesainya tugas itu. Sebaliknya bila ia lalai menjalankan tugasnya, akan dikatakan tidak mempunyai tanggung jawab moral. Tidak mempunyai kewajiban, tidak dapat disamakan dengan tidak mempunyai tanggung jawab, sebab memang tidak ada kewajiban atau tugas yang harus dikerjakan.
Di dalam ajaran islam dikenal adanya tugas-tugas yang bersifat wajib (fardhu) dan bersifat sunnah. Dari fardhu inilah nampaknya, kemudian berkembang nilai-nilai tanggung jawab di kalangan masyarakat luas.
Kewajiban lahir karena adanya:
a. hubungan antara manusia dengan manusia lain
b. hubungan antara manusia dengan Tuhannya, dan dari dalam bentuk dan kadar yang berbeda antara satu dengan lainnya.
Ada kalanya sebagian dari tanggung jawab seseorang itu dilimpahkan kepada orang lain. Seorang guru misalnya, dia menerima sebagian tanggung jawab orang tua dalam hal mendidik anaknya. Dalam hubungannya dengan tanggung jawab, Prof. Drijarkara mengatakan, bahwa manusia itu mempunyai hukum kodrat. Agar ia menjadi manusia yang baik, ia harus memiliki sikap dasar, seperti selalu siap sedia untuk berbuat kebaikan. Sikap dasar tersebut mempunyai banyak aspek. Salah satu aspek itu ialah tanggung jawab. Bila dihubungkan dengan kewajiban, menurut beliau, rasa tanggung jawab itu dapat berupa siap sedia untuk melakukan kewajiban.

2. Makna Tanggung Jawab

Tanggung Jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai pewujudan kesadaran akan kewajibannya.
Manusia adalah makhluk pribadi, karena itu manusia mempunyai tanggung jawab secara pribadi atas segala perbuatannya. Tetapi karena manusia juga makhluk sosial maka seringkali perbuatan itu menyangkut masyarakat, sehingga manusia pun harus bertanggung jawab kepada masyarakat.
Tak dapat dielakkan, bahwa manusia adalah warga negara suatu negara. Karena itu manusia mempunyai kewajiban terhadap negara. Bila manusia melalaikan kewajibannya, sudah tentu ia harus bertanggung jawab kepada negara.
Manusia ada bukan dengan sendirinya, tetapi merupakan ciptaan Tuhan, Karena itu manusia berkewajiban terhadap Tuhan. Kelalaian akan kewajibannya terhadap Tuhan, harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.

3. Makna Pengabdian

Pengabdian adalah perbuatan manusia baik yang berupa pikiran, pendapat, ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan cinta, kasih sayang, hormat, atau suatu ikatan dan semua dilakukan secara ikhlas. Pengabdian pada dasarnya adalah rasa tanggung jawab.
Manusia hidup berkeluarga, karena itu manusia wajib mengabdi kepada keluarga, karena anggota masyarakat, manusia wajib mengabdi kepada masyarakat. Manusia sebagai anggota suatu bangsa dan warga negara suatu negara, wajib mengabdi kepada bangsa dan negaranya.
Karena manusia makhluk ciptaan Tuhan, maka manusia wajib mengabdi kepada Tuhan.

4. Makna Kesadaran

Kesadaran adalah keinsyafan akan perbuatannya. Sadar artinya merasa, tahu atau ingat (kepada keadaan yang sebenarnya), keadaan ingat akan dirinya, ingat kembali (dari pingsannya), siuman, bangun (dari tidur) ingat, tahu, dan mengerti, misalnya rakyat telah sadar akan politik.
Dalam berbuat, kadang-kadang orang hanya melanggar suatu norma, kadang-kadang sekaligus melanggar dua tiga norma, bahkan ada yang langsung melanggar tiga norma.
Kesadaran moral amat penting untuk diperhatikan orang, karena pelanggaran moral dapat berakibat merusak nama. Oleh ini tidak berarti bahwa kesadaran yang lain tidak penting. Semua kesadaran penting, karena ketidaksadaran adalah salah satu hal yang dapat menggoncangkan atau sekuang-kurangnya membuat kepincangan dalam hidup.

5. Makna Pengorbanan

Pengorbanan ialah pemberian secara ikhlas yang berupa pikiran, pendapat, harta, waktu, tenaga, bahkan mungkin nyawa, demi cinta, kesetiaan, ikatan sesuatu, kebenaran, dan mungkin juga kesetiakawanan.
Manusia hidup sebagai pribadi, sebagai bangsa dan warga negara suatu negara, dan juga sebagai makhluk ciptaan Tuhan; karena itu, dalam kehidupan ada bermacam-macam jenis pengorbanan.
Pengorbanan demi kelurga, pengorbanan demi hidup di msyarakat, pengorbanan demi cinta kepada bangsa negara, pengorbanan demi kebenaran dan pengorbanan demi cinta kepada agama dan cinta kepada Tuhan, semua itu tidak lepas dari kehidupan manusia.

Daftar pustaka : Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta

Selasa, 15 Desember 2015

MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP

1. Pandangan Hidup dan Ideologi
Ideologi menurut William (1959) mengandung dua hal, yaitu : (1) unsur-unsur filsafat yang digunakan, atau unsur yang digunakan sebagai dasar suatu kegiatan, dan (2) pembenaran intelektual untuk seperangkat norma-norma. Munandar Sulaiman menyatakan bahwa ideologi merupakan komponen dasar terakhir dari sistem-sistem sosiobudaya, bagi masyarakat, ideologi tersusun dari tiga unsur yaitu :

1) Pandangan hidup

2) Nilai-nilai, dan

3) Norma-norma

Masyarakat modern dalam berbagai hal telah menciptakan adanya konflik pandangan-pandangan untuk pengabdian dirinya. Sebagai contoh, masyarakat industri berpandangan hidup bukan merupakan sumber integrasi seperti masyarakat lama tetapi cenderung melaksanakan reideologi, dan retradisionalisasi.

Pancasila merupakan pandangan hidup yang berakar dalam kepribadian bangsa, maka ia diterima sebagai dasar negara yang mengatur ketatanegaraan. Hal ini tampak dalam sejarah bahwa meskipun dituangkan dalam rumusan yang agak pernah kita miliki, yaitu Mukadimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat dan dalam Preambul Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia, Pancasila itu tetap tercantum di dalamnya, Pancasila yang selalu dikukuhkan dalam kehidupan konstitusional itu, Pancasila yang selalu pasangan bersama pada saat-saat terjadi krisis nasional dan ancaman terhadap eksistensi selalu dikehendaki sebagai dasar negara.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi pandangan hidup adalah sebagai pegangan dan pedoman bagaimana cara memecahkan masalah kehidupan bangsa yang makin maju agar kokoh lestari dan bahagia.

2. Makna Cita-cita

Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup. Cita-cita, kebajikan dan sikap hidup itu tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Dalam kehidupannya manusia tidak dapat melepaskan diri dari cita-cita, kebajikan dan sikap hidup itu.

Sejak bayi lahir atau bahkan sejak dalam kandungan, orang tua telah mencita-citakan agar anaknya kelak menjadi ini atau itu, sudah tentu sesuai dengan keinginan orang tuanya. Apakah keinginan orang tua itu kelak terwujud atau tidak bergantung kepada perkembangan dan lingkungan. Yang jelas begitu bayi lahir ayah-ibunya menimang-nimang agar kelak anaknya menjadi dokter, insinyur, jenderal, gubernur dan sebagainya.

keinginan orang tua atas anaknya bergantung kepada pendidikan, pengalaman dan lingkungan orang tua. Orang tua yang petani dan buta huruf serta mempunyai sosial ekonomi lemah mungkin hanya berkeinginan agar anaknya pandai, atau cukup mengharapkan anaknya kelak jangan menderita seperti mereka. Tidak ada orang tua yang berkeinginan anaknya menjadi orang yang tidak baik, sekalipun orang tuaya seperti Kusni Kasdut. Atau biarpun orang tuanya dibenci orang karena tingkah lakunya, sifatnya, ketamakannya, kesadisannya dan sebagainya.

Kadang-kadang cita-cita diartikan angan-angan. Hal ini terjadi bahkan pada anak yang masih bersekolah di TK atau SD atau bahkan sebelum sekolah. Bila anak itu ditanya orang tua,”ingin jadi polisi!” atau “ingin jadi ABRI!” atau “ Penerbang”. Hal ini disebabkan polisi, ABRI, selalu tampak gagah dan tegap di matanya, sedangkan penerbang kelihatan hebat pada saat terbang melintas di udara.

Dapat disimpulkan bahwa:

Cita adalah hati; cita-cita adalah suatu keinginan yang terkandung di dalam hati. Karena itu cita-cita juga berarti angan-angan, keinginan, harapan, atau tujuan.

3. Makna Kebajikan

Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakikatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama atau etika.

Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik, makhluk bermoral. Atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik.

Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari tiga segi, yaitu: manusia sebagai pribadi, manusia sebagai anggota masyarakat, dan manusia sebagai makhluk Tuhan.

Manusia sebagai pribadi dapat menentukan baik-buruk. Yang menentukan baik-buruk itu suara hati. Suara hati itu semacam bisikan dalam hati untuk menimbang perbuatan baik atau tidak. Jadi suara itu merupakan hakim terhadap diri sendiri. Suara hati sebenarnya telah memilih yang baik, namun manusia seringkali tidak mau mendengarkan.

Demikian pula suara hati masyarakat, yang menentukan baik-buruk adalah suara hati masyarakat. Suara hati manusia adalah baik, tetapi belum tentu suara hati masyarakat menganggap baik. Sebagai anggota masyarakat, manusia tidak dapat membebaskan diri dari kemasyarakatannya.

Sebagai makhluk Tuhan, manusia pun harus mendengarkan suara hati Tuhan. Suara Tuhan selalu membisikkan agar manusia berbuat baik dan mengelakan perbuatan yang tidak baik. Jadi, untuk mengukur perbuatan baik-buruk, harus kita dengar pula suara Tuhan atau kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan berbentuk hukum agama atau hukum Tuhan.

Jadi kebajikan itu adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat dan hukum Tuhan. Kebajikan berarti berlaku sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang melihatnya.

Namun ada pula kebajikan semu, yaitu kejahatan yang berselubung kebajikan. Kebajikan semu ini sangat berbahaya, karena pelakunya orang-orang munafik, yang bermaksud mencari keuntungan diri sendiri.

4. Makna Sikap Hidup

Sikap hidup ialah keadaan hati dalam menghadapi hidup ini. Apakah kita mempunyai sikap yang positif atau negatif? Apakah kita mempunyai sikap optimis atau pesimis? Apakah kita mempunyai sikap apatis?

Sikap itu ada di dalam hati kita dan hanya kitalah yang tahu. Orang lain hanya baru tahu setelah kita bertindak.

Sikap itu penting; setiap manusia mempunyai sikap dan sudah tentu tiap-tiap orang berbeda sikapnya. Sikap dapat di bentuk sesuai dengan kemauan yang membentuknya. Pembentukan sikap ini terjadi melalui pendidikan. Seperti halnya seorang militer yang bersikap tegas, berdisiplin tinggi, sikap ksatria, karena dalam kemiliteran ia dididik ke arah sikap itu.

Dapat disimpulkan bahwa:

Sikap hidup adalah perasaan hati, dalam menghadapi hidup ini, sikap itu bisa positif, bisa negatif, bisa apatis, atau sikap optimis atau pesimis, bergantung kepada pribadi orang itu dan juga lingkungannya.

Setiap manusia mempunyai kadar sikap. Kadar sikap yang dimiliki manusia satu sama lain tidak sama. Sikap orang dapat berubah sekonyong-konyong karena situasi dan kondisi lingkungan.

5. Manusia dan Pandangan Hidup

Kalau ada orang yang punya prinsip bahwa kalau merasa dingin di waktu malam ataupun di pegunungan jangan dirasakan sangat menekan dan jangan diusahakan dilawan dengan selimut, tetapi tenangkan jalur urat-urat anda agar tidak terasa dingin. Ini bukan pandangan hidup (princeple) atau way of life, hanya satu di antara petunjuk-petunjuk melawan kedinginan atau kesegaran jasmani. Pandangan hidup berupa sesuatu penggaris yang mungkin dapat dinyatakan dengan kata-kata sebagai rumusan/formula, tetapi juga tak dapat dinyatakan dengan rumusan, sebab disamping:

a. Orang sulit menyusun perasaan, pikiran, dan kejiwaannya:

b. Juga karena ia sendiri menyadari bahwa mungkin ia dapat berbuat/bertindak yang melanggar prinsip-prinsip yang dikatakan.

c. Dan khawatir kalau-kalau ada kritik besar dan penyelewengan pandangan hidup dari anak-anak atau orang yang dibimbing.

Pandangan hidup merupakan suatu dasar atau landasan untuk membimbing kehidupan rohani dan jasmani, itu berguna bagi perorangan (individual), kelompok atau masyarakat, bahkan negara dan juga Undang-Undang serta peraturan-peraturan harus merupakan pancaran dari pandangan hidup yang sudah dirumuskan. Dalam kehidupan perseorangan menurut gambaran Drijarko S.J. mengatakan bahwa manusia itu serba terhubung dengan dunia jasmani sekitarnya, terhubung erat dengan masyarakat dan akhirnya manusia itu tergantung sseluruhnya pada yang ada, yang mutlak, yaitu Tuhan. Dengan demikian kita memperoleh beberapa ide atau pengertian-pengertian tentang manusia dan persoalan manusia yang sangat fundamental, yang bersifat hakiki, yang mau tidak mau menyangkut-pautkan setiap orang.

Pandangan hidup adalah juga filsafat hidup. Sesuai dengan arti filsafat yaitu cinta akan kebenaran tentulah bentuk kebenaran yang akan dicapai adalah kebenaran yang dapat diterima oleh siapa saja. Pandangan hidup dimiliki oleh semua orang atau semua golongan, maka penggolongan yang paling ringan adalah pandangan berdasar:
a. Beragama, beriman.
b. Tidak beragama tetapi mengikuti garis ajaran satu atau lebih dari agama yang ada.
c. Materialistik dan sekuler.

Daftar Pustaka :

Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta

Rabu, 09 Desember 2015

MANUSIA DAN KEADILAN



1. Makna Keadilan

       Manusia sebagai makhluk Tuhan adalah makhluk tertinggi yang memiliki gejala-gejala istimewa yang hanya terdapat pada manusia saja, dan tidak terdapat pada benda mati ataupun benda hidup seperti pada hewan ataupun pada tumbuh-tumbuhan. Gejala-gejala istimewa itu bisa kita golongkan menjadi tiga jenis yang di sebut akal, rasa, dan kehendak akal. Rasa dan kehendak ini menyatu dalam diri manusia yang terdiri atas manunggalnya jiwa dan raga yang kemudian menjadikan sumber-sumber kemampuan, kecerdasan ataupun kecakapan manusia dalam mengatur hidupnya.
       Manusia sebagai makhluk Tuhan memiliki sifat kodrat yaitu sifat kodrat perseorangan atau juga disebut makhluk pribadi (individu) dan sifat kodrat masyarakat atau disebut makhluk sosial. Di dalam istilah filsafat, kedua sifat kodrat manusia ini disebut sifat kodrat monodualis manusia. Ditinjau dari segi kepentingan hidupnya, manusia sebagai makhluk pribadi mengatur hubungannya untuk kepentingan diri sendiri, sedangkan manusia sebagai makhluk sosial mengatur hubungannya antara manusia yag satu dengan manusia yang lain atau sesama manusia. Tidak mungkin manusia bisa hidup sendiri tanpa hubungan dengan manusia yang lain, terakhir sebagai makhluk Tuhan, manusia mengatur hubungannya dengan Tuhan atau Prisma Causa. Di dalam mengatur hubungan kodrat manusia ini perlu adanya keserasian, keseimbangan, kesesuaian ataupun kesamaan dalam tingkah laku baik untuk kepentingan pribadi (individu) ataupun untuk kepentingan masyarakat. Kemampuan yang demikian itu menjelma sebagai tingkah laku adil yang kemudian menjadi tujuan umat manusia dalam mengatur kehidupannya. Oleh sebab itu tingkah laku adil atau keadilan menjadi tumpuan harapan manusia, semua orang menghendaki keadilan.
       Keadilan ialah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Jika kita mengakui hak hidup kita, maka kita wajib mempertahankan hak hidup tersebut dengan bekerja keras tanpa merugikan orang lain. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan bahwa orang lainpun mempunyai hak hidup seperti kita. Jika kita mengakui hak hidup orang lain itu untuk mempertahankan hak hidup kita sendiri. Jadi keadilan pada pokoknya terletak pada keseimbangan atau keharmonisan antara menuntut hak dan menjalankan kewajibannya (Drs. Suyadi M.P.1986).
       Apabila seseorang ataupun golongan hanya mementingkan hak dan kewajiban sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang lain ataupun golongan lainnya, tejadilah keadilan semu. Misalnya saja:
Pengusaha : Bagi mereka menamakan adil, apabila keuntungan terbesar terbesar jatuh pada pihak                           pedagang.
Buruh : Bagi buruh menganggap adil apabila upah dibayar pada waktunya dan keuntungan perusahaan juga dibagi wajar pada kaum buruh.
Golongan Demokrat : Menganggap adil apabila kepentingan rakyat selalu diutamakan.
Golongan Komunis : Menganggap adil sekiranya hak milik perseorangan ditiadakan.
Ditinjau dari bentuk ataupun sifat-sifatnya, keadilan dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis :
     1. Keadilan legal atau keadilan moral.
     2. Keadilan Distributif.
     3. Keadilan Komutatif.

2. Kejujuran dan Kebenaran
       Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya apa yang dikatakannya sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Untuk itu dituntut satu kata dan perbuatan, yang berarti bahwa apa yang dikatakan harus sama dengan perbuatannya. Karena itu jujur berarti juga menepati janji atau kesanggupan yang terlampir melalui kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam hati nuraninya yang berupa kehendak, harapan dan niat. Seseorang yang tidak menepati niatnyaberarti mendustai diri sendiri.
       Kebenaran atau benar dalam arti moral berarti tidak palsu, tidak munafik, yakni bila perkataannya sesuai dengan keyakinan batinnya atau hatinya. Suatu kebenaran sejati, berlaku bagi setiap orang yang mengetahui. Demikianlah ebenaran dan kejujuran yang dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi adalah kesadaran tentang akan sama hak dan kewajiban, serta rasa takut terhadap perbuatan salah atau dosa. Kesadaran moral adalah kesadaran tentang diri sendiri, kesadaran melihat dirinya sendiri berhadapan dengan pilihan hal yang baik dan buruk, yang halal maupun yang haram, atau yang boleh dan tidak boleh dilakukan meskipun dapat dilakukan. Kejujuran dan kebenaran merupankan landasan untuk keadilan.

3. Kecurangan

       Kecurangan atau curang identik dengan ketidakjujuran atau tidak jujur, dan sama pula dengan licik, meskipun tidak serupa benar. Sudah tentu kecurangan sebagai lawan jujur.
       Curang atau kecurangan artinya apa yang dikatakan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Atau, orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa bertenaga dan usaha? Sudah tentu keuntungan itu diperoleh dengan tidak wajar. Yang dimaksud dengan keuntungan disini adalah keuntungan yang berupa materi. Mereka yang berbuat curang, menganggap akan mendatangkan kesenangan atau keenakan, meskipun orang lain menderita karenanya.
       Kecurangan menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya, dan senang bila masyarakat disekelilingnya hidup menderita. Orang seperti itu biasanya tidak senang bila ada yang melebihi kekayaannya. Padahal agama apa pun tidak membenarkan orang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa menghiraukan orang lain, lebih pula mengumpulkan harta dengan jalan curang. Hal semacam itu dalam istilah agama tidak diridhoi Tuhan.

4. Pemulihan Nama Baik

       Nama baik merupakan salah satu tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih lebih jika ia menjadi teladan bagi orang/tetangga disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya.
       Tingkah laku atau perbuatan yang baik dengan nama baik itu pada hakikatnya sesuai dengan kodrat manusia, yaitu :
     1. Manusia menurut sifat dasarnya adalah makhluk moral.
     2. Ada aturan-aturan yang berdiri sendiri yang harus dipatuhi manusia untuk mewujudkan dirinya          sendiri sebagai pelaku moral tersebut.
       Pada hakikatnya, pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahnnya; bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan akhlak.
       Akhlak berasal dari bahasa Arab akhlaq, bentuk jamak dari khuluq dan dari akar kata khlaq yang berarti penciptaan. Oleh karena itu, tingkah laku dan perbuatan manusia harus disesuaikan dengan penciptaannya sebagai manusia. Untuk itu, orang harus bertingkah laku dan berbuat sesuai dengan akhlak yang baik.

5. Pembalasan

       Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang.
       Pembalasan itu ada yang bersifat positif dan ada yang bersifat negatif. Pembalasan yang bersifat positif ialah pembalasan yang dilakukan atas dasar saling menjaga dan menghargai hak dan kewajiban masing-masing.
       Dalam Al-Qur'an pun terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengadakan pembalasan. Bagi yang bertakwa kepada Tuhan diberikan pembalasan dan bagi yang mengingkari perintah Tuhan pun diberikan pembalasan dan balasan yang diberikan adalah balasan yang seimbang, yaitu siksaan di neraka.
Daftar pustaka : Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta

Rabu, 02 Desember 2015

MANUSIA DAN PENDERITAAN

1.MAKNA PENDERITAAN

          Penderitaan dari kata derita. Kata derita berasal dari kata bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan.penderitaan itu dapat lahir dan batin, atau lahir batin. Yang termasuk penderitaan itu antara lain keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan, dan lain-lain.
          Baik dalam Al-Qur’an maupun kitab suci agama lain banyak surat dan ayat yang menguraikan tentang penderitaan yang dialami manusia itu sebagai peringatan bagi manusia akan adanya penderitaan. Tetapi umumnya manusia itu kurang memperhatikan peringatan tersebut, sehingga manusia mengalami penderitaan.
          Karya shakespeare pun banyak mengungkapkan penderitaan batin yang  dialami para pelakunya. Dalam drama “Romeo and Juliet” pada dasarnya shakespeare ingin mengkomunikasikan penderitaan batin dua remaja yang saling dimabuk cinta. Kedua orang tua remaja itu bermusuhan, sehingga tak mungkin kedua remaja yang sudah seia dan sekata melanjutkan hubungannya ke jenjang pernikahan.
Dapat disimpulkan bahwa :
          Penderitaan tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Karena setiap orang akan/pernah mengalami penderitaan. Nasib malang atau penderitaan datang tak dapat ditolak, harus diterima apa adanya, kita pasrah kepada tuhan. Dengan mempelajari berbagai kasus penderitaan manusia berarti telah mempelajari sikap, nilai, harga diri, ketamakan, kesombongan dan sebagainya.

2.MAKNA SIKSAAN

          Berbicara tentang siksaan, maka terbayang pada ingatan kita tentang neraka dan dosa, dan akhirnya firman tuhan dalam kitab suci Al-Quran. Seperti kita maklumi di dalam kitab suci Al-Quran terdapat banyak sekali surat dan ayat yang membicarakan tentang siksaan ini.
          Berbicara tentang siksaan terbayang di benak kita sesuatu yang sangat mengerikan. Betapa tidak, di dalam benak kita terbayang seseorang yang tinggi besar, kokoh kuat dan dengan muka yang seram memegang cemeti yang siap dicambukkan ke orang yang disiksa.
          Siksaan tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Setiap manusia pernah atau akan menjalani siksaan. Siksaan tak dapat  dipisahkan dengan dosa. Siksaan yang berhubungan dengan dosa adalah siksaan di hari kiamat. Siksaan itu bisa berupa penyakit, siksaan hati, siksaan badan oleh orang lain dan sebagainya.

3.MAKNA RASA SAKIT

          Rasa sakit adalah rasa yang tidak enak bagi si penderita. Rasa sakit akibat menderita penyakit, atau sakit. Penyakit atau sakit sehingga ada rasa sakit, dapat menimpa setiap manusia hidup. Kaya miskin, besar kecil, tua muda, berpangkat atau rendahan tak dapat menghindarkan diri, bila telah tertimpa, orang bodoh atau orang pintar, bahkan seorang dokter sekalipun kalau sudah menderita sakit tak sanggup menghindarinya.
          Penderitaan, rasa sakit, dan siksaan merupakan rangkaian peristiwa yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan, merupakan rentetan sebab akibat.
          Rasa sakit banyak hikmahnya, antara lain dapat mendekatkan diri penderita kepada tuhan, dapat menimbulkan rasa kasihan terhadap penderita, dapat membuka rasa keprihatinan manusia, rasa sosial, dermawan dan sebagainnya.
          Tiap rasa sakit atau penyakit ada obatnya. Hanya tergantung kepada penderita atau keluarga penderita, apa ada usaha atau tidak. Bagi yang berusaha sungguh-sungguh dengan disertai mendekatkan diri kepada tuhan dan pasrah kepada-nya, maka tuhan akan mengabulkan doa dan usahanya.

4.NERAKA

          Berbicara tentang neraka, maka lazimnya kita tentu ingat kepada dosa. Juga terbayang dalam ingatan kita yang luar biasa. Tergambar pula dalam ingatan kita suatu rasa sakit dan penderitaan hebat.
          Manusia masuk neraka karena dosa. Oleh karena itu, bila kita bicara tentang neraka tentu berkaitan dengan dosa, berbicara tentang dosa berarti juga berbicara tentang kesalahan.
          Neraka berhubungan erat dengan dosa dan identik dengan salah atau kesalahan. Orang salah mendapat hukuman. Hukuman identik dengan siksaan. Siksaan adalah rasa sakit dan rasa sakit adalah penderitaan.

5.BEBERAPA KASUS PENDERITAAN

Penderitaan erat sekali hubungannya dengan hidup manusia, bahkan dapat berfungsi sebagai dinamisator kehidupan manusia. Persoalan yang muncul adalah mengapa manusia mengalami penderitaan, apakah penderitaan itu membahayakan kesehatan, dan bagaimana upaya menghindarkan penderitaan.
Contoh kasus penderitaan :
Kasus pertama
Ada seorang guru SD kelas enam, aminah namanya. Ia sudah bekerja sebagai guru selama 3 tahun, ia dikenal sebagai guru yang rajin dan disiplin. Ia berpendirian bahwa guru yang baik adalah adalah guru yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan tetapi membina kepribadian anak didiknya. Oleh karena itu anak-anak menyayanginnya.
          Akhir-akhir ini aminah jatuh sakit . orang-orang menduga aminah jatuh sakit karena pacarnya. Pacarnya yang seorang guru dipindahkan ke daerah lain. Ia sakit karena takut kehilangan pacarnya. Dugaan lainnya mengatakan aminah sakit karena tidak kuat menghadapi dua orang murid yang mengganggunya di kelas.
          Salah seorang murid itu mengganggu pikiran aminah, ialah si A. Anak ini sangat malas dan bersikap acuh terhadap pelajaran aminah. Murid yang lain ialah B, ia suka ngomong kepada murid lain untuk tidak menyukai pelajaran bu Aminah. Aminah sangat menderita di dalam batin aminah terjadi konflik, di satu pihak ia mencintai anak didiknya di lain pihak ia membencinya. Dalam kondisi semacam ini ia pernah marah kepada anak didiknya, karena begitu memuncak kemarahannya sehingga tidak dapat dikendalikan lagi.
Menyimak cerita pada kasus pertama dapat memperkirakan betapa hebatnya penderitaan ibu guru Aminah. Dari kasus ini dapat diamati bahwa penderitaan yang berat tak tertahankan lagi. Dapat meletus berupa luapan emosi dan tindakan yang eksplosif.

6.SUMBER PENDERITAAN

Manusia pada hakikatnya adalah mahluk hidup yang memiliki kepribadian yang tersusun dari perpaduan dan saling hubungan dan mempengaruhi antara unsur-unsur jasmani, dan rohani, dan karena itu penderitaan dapat pula terjadi pada tingkat jasmani maupun rohani.
          Dalam kehidupan sehari-hari rohani menjiwai, mendasari, dan memimpin unsur-unsur pribadi manusia. Rohani memiliki alat dan kemampuan. Alat dan kemampuan itu adalah :

1.    Nafsu
Nafsu adalah semua dorongan yang ditimbulkan oleh segala macam kebutuhan, termasuk pula instink, sehingga menimbulkan keinginan.
2.    Perasaan
Perasaan merupakan gejala psikis, perasaan yang menyangkut suasana batiniah manusia.
3.    Pikiran
Pikiran disebut juga akal, budi. Dimilikinya pikiran ini memungkinkan manusia mempertimbangkannya, membedakan, dan mengambil keputusan berdasarkan alasan-alasan tersendiri. 
4.    Kemauan
Kemauan disebut juga kehendak. Kemauan atau kehendak dalam diri manusia memungkinkan manusia untuk memilih.

7.UPAYA MENGHINDARKAN DIRI DARI PENDERITAAN

          Perilaku manusia sebagian besar merupakan pancaran perilaku yang telah dipelajari sebelumnya. Oleh karena itu perilaku manusia tidak pernah beku, dapat selalu berubah, dan dapat berbeda beda dari satu individu ke individu lain, dan dari satu saat ke saat yang lain. Dalam proses pembentukan kepribadiannya ini faktor enkulturasi dan sosialisasi memegang peranan yang penting
`        Kepribadian psikologis yang sehat dalam arti selalu berada dalam kondisi harmonis, stabil, dan sabar yang telah dibentuk sejak awal perkembangannya itu seharusnya tetap dibina sampai akhir hayatnya. Untuk dapat membina kondisi semacam itu diperlukan suatu pegangan atau suatu pedoman hidup. 

Daftar pustaka :

 Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta

Rabu, 25 November 2015

MANUSIA DAN KEINDAHAN

1. Makna Keindahan

       Keindahan adalah identik dengan kebenaran. Keindahan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah, yang tidak mengandung kebenaran berarti tak indah. Karena itu tiruan lukisan Monalsa tidak indah, karena dasarnya tidak benar.
     Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak terikat oleh selera perorangan, waktu dan tempat, selera mode, kedaerahan atau lokal.

a. Apakah keindahan itu?
       Berbicara tentang keindahan mau tak mau kita harus menengok jauh ke belakang yaitu ke jaman Yunani Kuno, abad ke-18. Pada saat itu pengertian keindahan telah dipelajari oleh para filsuf. Keindahan menurut luasnya, dibedakan menjadi :
     1. The Liang Gie menjelaskan, bahwa keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan. Misalnya Plato menyebut watak yang indah dan hukum yang indah, sedangkan Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan.
     2. Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya.
     3. Keindahan dalam arti yang terbatas mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna.

b. Nilai estetik
       Dalam langka teori umum tentang nilai The Liang Gie menjelaskan bahwa, pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomi, nilai pendidikan, dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetik.
      Masalah sekarang ini ialah apakah nilai estetik itu? Dalam bidang filsafat, istilah nilai seringkali dipakai sebagai suatu kata benda abstrak yang berarti keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness). Dalam "Dictionary of Sociology and Related Science" diberikan rumusan tentang nilai sebagai berikut :
       "The believed Capacity of any object to saticgy a human desire. The Quality of any object which causes it be of interest to an individual or a group" (kemampuan yang dianggap ada pada suatu benda yang dapat emuaskan keinginan manusia; sifat dari suatu benda yang menarik minat seseorang atau suatu kelompok).
       Hal itu berarti, bahwa nilai adalah semata-mata realita psikologi yang harus dibedakan secara tegas dari kegunaan karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada bendanya itu sendiri. Nilai itu (oleh orang) dianggap terdapat pada suatu benda sampai terbukti letak kebenarannya.
       Tentang nilai itu ada yang membedakan antara nilai subjektif dan objektif, atau ada yang membedakan nilai perseorangan dan nilai kemasyarakatan. Tetapi penggolongan yang penting ialah nilai ekstrinsik dan nilai instrinsik.
       Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya yakni nilai yang bersifat sebagai alat untuk membantu. Nilai intrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, atau pun demi kepentingan benda itu sendiri.

c. Apa sebab manusia mencipta keindahan?
       Keindahan itu pada dasarnya alamiah. Alam itu ciptaan Tuhan. Ini berarti bahwa keindahan itu ciptaan Tuhan. Alamiah itu artinya wajar, tidak berlebihan tidak pula kurang.

Dapat disimpulkan bahwa :
       Keindahan berasal dari kata "indah", berarti bagus, permai, cantik, molek, dan sebagainya. Benda yang mengandung keindahan ialah segala hasil seni dan alam semesta ciptaan Tuhan. Sangat luas kawasan keindahan bagi manusia. Karena itu kapan, dimana, dan siapa saja dapat menikmati keindahan.

2. Makna Renungan

       Setiap orang pernah merenung. Sudah tentu kadar renungannya satu sama lain berbeda, meskipun obyek yang direnungkan sama, lebih pula apabila obyek renungannya berbeda. Jadi apa yang direnungkan itu bergantung kepada obyek dan subyek.
       Setiap kegiatan untuk merenungkan atau mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah dimiliki dapat disebut berfilsafat. Pemikiran kefilsafatan mendasarkan diri kepada penalaran. Penalaran adalah proses berpikir yang logik dan analitik. Berpikir merupakan kegiatan untuk menyusun pengetahuuan yang benar. Berpikir logik menunjuk pola berpikir secara luas. Kegiatan berpikir dapat disebut logik ditinjau dari suatu logika tertentu. Maka ada kemungkinan suatu pemikiran yang logik akan menjadi tidak logik bila ditinjau dari sudut logika yang lain.
       Pemikiran kefilsafatan mempunyai 3 macam ciri, yaitu :
   1. Menyeluruh artinya pemikiran yang luas, bukan hanya ditinjau dari sudut pandangan tertentu. Pemikiran kefilsafatan ingin mengetahui hubungan antara ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu lain, hubungan ilmu dengan moral, seni dan tujuan hidup.
   2. Mendasar artinya pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fudamental (ke luar dari gejala), sehingga dapat dijadikan dasar berpijak bagi segenap bidang keilmuan.
   3. Spekulatif artinya hasilpemikiran yang dapat dijadikan dasar untuk pemikiran-pemikiran selanjutnya. Hasil pemikiran selalu dimaksudkan sebagai dasar untuk menjelajah wilayah pengetahuan yang baru.

3. Makna Keserasian

       Keserasian berasal dari kata serasi; serasi dari kata dasar rasi artinya cocok, sesuai, atau kena benar. Kata cocok, sesuai atau kena mengandung unsur pengertian perpaduan, ukuran, dan seimbang. Perpaduan misalnya orang berpakaian antara kulit dan warna yang dipaki cocok. Sebaliknya orang hitam memakai warna hijau, tentu makin hitam. Warna hijau pantas dipaki orang berkulit kuning. Atau kepasar mempergunakan pakaian pesta, atau sebaliknya berpesta mempergunakan pakaian santai, dan lain-lain. Hal seperti ini tentu tidak serasi atau kurang kena. Dan tentu akan dikatakan oleh setiap orang "sayang" atau kata-kata lain yang menunjukkan kekecewaan. Oleh karena orang yang memandang itu merasa kecewa dengan adanya hal yang kurang serasi.

4. Makna Kehalusan

       Kehalusan berasal dari kata halus artinya tidak kasar (perbuatan) lembut, sopan, baik (budi bahasa), beradab. Kehalusan berarti sifat-sifat yang halus, kesopanan, dan atau keadaban. Halus bagi manusia itu sendiri ialah berupa sikap, yakni sikap halus. Sikap halus adalah sikap lembut dalam menghadapi orang. Lembut dalam mengucapkan kata-kata, lembut dalam roman muka, lembut dalam sikap anggota badan lainnya.
       Halus itu berarti suatu sikap manusia dalam pergaulan baik dalam masyarakat kecil maupun dalam masyarakat luas. Sudah tentu sebagai lawannya ialah sikap kasar atau sikap orang-orang yang sedang emosi, bersikap sombong, bersikap kaku, sikap orang yang sedang bermusuhan.
       Sikap halus atau lembut merupakan gambaran hati yang tulus serta cinta kasih terhadap sesama. Sebab itu orang yang bersikap halus atau lembut biasanya suka memperhatikan kepentingan orang lain, dan suka menolong adalah orang lain. Sikap lembut merupakan perwujudan pola dari sifat-sifat ramah, sopan, sederhana dalam pergaulan.

5. Keindahan Objektif dan Subjektif

       Ternyata bahwa dalam urusan keindahan itu tersangkut dua pihak, yaitu benda atau apa saja yang berperan sebagai objek dan siapa yang menanggapi sebagai pihak yang berperan sebagai subjek. Tidak setiap objek yang indah akan diterima atau ditanggapi oleh setiap subjek sebagai yang indah. Sebaliknya tidak setiap yang indah bagi seseorang akan dinilai indah pula bagi orang lain. Bukan tidak mungkin sesuatu yang sebenarnya tidak indah akan diterima sebagai yang indah oleh seseorang.
       Atas dasar itu, sebenarnyalah keindahan itu menurut kenyataannya dapat dibedakan atas dua macam; yaitu keindahan objektif dan keindahan subjektif. Dengan keindahan objektif dimaksudkan ialah keindahan yang secara hakiki ada pada sesuatu benda atau apa saja. Keberadaan keindahan objektif ini tidak bergantung kepada pihak-pihak luar benda atau objek itu. Dengan kata lain, disenangi atau tidak objek tersebut tetap indah. Menurut Alexius Meinong (1838-1914) dan juga Christian Ehrenfels (1859-1932), "keindahan adalah kekayaan yang melekat pada objek itu sendiri". Sejalan dengan pendapat di atas ialah pendapat Pater Dick Hartoko. Menurut Pater Dick, "keindahan merupakan sesuatu yang melekat pada segala sesuatu yang ada, baik pada Tuhan maupun pada makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Selanjutnya oleh Pater Dick dikatakan bahwa sifat-sifat keindahan seperti itu disebutkan sebagai keindahan trasendental, yang mengatasi batas-batas yang memisahkan segala sesuatu yang ada. Keberadaannya tidak dapat dan tidak boleh diterapkan secara "univoque" melainkan secara "analog". Keindahan sebutir mutiara berbeda dengan keindahan sekuntum bunga mawar atau anggrek, berbeda pula dengan keindahan sebuah bangunan artistik dari suatu gedung modern, tidak sama pula dengan keindahan jiwa seorang yang saleh. 
       Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa keindahan objektif adalah keindahan menurut akal budi. Dengan demikian tanggapan yang muncul dari gerak akal budi akan selalu tepat benar dengan hakiki benda bersangkutan. Terhadap benda yang indah, akal budi akan mengatakannya indah. Sebaliknya terhadap benda yang secara hakiki tidak indah, akal budi akan mengatakan tidak indah. Ia tidak peduli dan tidak akan terpengaruh oleh keinginan-keinginan tertentu.

Daftar pustaka :

 Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta

Senin, 16 November 2015

MANUSIA DAN CINTA KASIH

11.       Makna Kasih Sayang

Dalam kamus umum Bahasa Indonesia karangan W. J. S. Purwodarminto, kasih sayang diartikan dengan perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang.
                Ada berbagai macam bentuk kasih sayang, bentuk itu sesuai dengan kondisi penyayang dan yang disayangi.
                Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagian. Kasih sayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Percintaan muda-mudi (pria-wanita) bila diakhiri dengan perkawinan, maka di dalam berumah tangga keluarga muda itu bukan lagi bercinta-cintaan, tetapi sudah bersifat kasih mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang.
                Dalam kasih sayang ini sadar atau tidak dari masing-masing pihak dituntut tanggunga jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh.
                Bila salah satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka retaklah keutuhan rumah tangga itu. Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran, akan terancamlah kebahagiaan rumah tangga.
                Yang dapat merasakan kasih sayang bukan hanya suami atau istri atau anak-anaknya yang telah dewasa, melainkan bayi yang masih merah pun telah dapat merasakan kasih sayang dari ayah atau ibunya.
Dapat disimpulkan bahwa :
                Kasih sayang dialami oleh setiap manusia, karena kasih sayang merupakan bagian hidup manusia. Sejak lahir anak telah mengenal kasih sayang, meskipun ada pula kelahiran anak tidak diharapkan, namun hal itu termasuk perkecualian. Kelahiran anak yang tidak diharapkan, umumnya bukan lahir karena hasil kasih sayang.
                Kasih sayang yang berlebihan cenderung merupakan pemanjaan. Pemanjaan anak berakibat kurang baik, karena umum nya anak yang dimanjakan menjadi anak yang sombong, pemboros, tidak saleh, dan tidak menghormati orang tua.

22.       Kasih Sayang dalam Keluarga

Bila percintaan pria-wanita di akhiri dengan perkawinan maka di dalam kehidupan berumah tangga, keluarga ini akan menemukan kebahagiaan mereka. Cinta yang semula hanya terbatas antara sepasang muda-mudi, kini berkembang dengan kasih sayang terhadap si Buyung yang mungil. Demikianlah sketsa hidup yang kita harapkan. Selanjutnya marilah kita mengikuti getaran kalbu seorang gadis mulai dari cintanya pada si “dia” sampai pada munculnya si “buyung”. Betulkah gadis ini berhasil menemukan kebahagiaan yang kekal dan menyeluruh?
Zaman sekarang ini banyak orang merasakan bahwa kebahagiaan itu adalah suatu keadaan abstrak yang sulit dicapai. Sebetulnya masih ada banyak jalan untuk menemukan kebahagiaan atau setidak-tidaknya untuk mengurangi pukulan badai kehidupan. Memang seringkali manusia tidak dapat lolos dari kesulitan sosial dan ekonomi. Namun dengan membangun kasih sayang yang erat dalam keluarga maka setidak-tidaknya kita mempunyai suatu tempat damai dan teduh di tengah kemelutnya persoalan hidup. Dalam sajak Pada Suatu Bulan Yang Cerah kita dapati sketsa seorang wanita yang melukiskan kasih sayang seperti tersebut di atas itu dalam kata-kata “ia rumah yang teduh dan aku penghuni yang setia/kami bersatu”. Wanita ini kemudian membangun keluarganya dengan menanamkan kasih sayang yang lebih kokoh lagi.

33.       Makna Kemesraan

Kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan kasih yang telah mendalam.
Filsuf Rusia, Salovjev dalam bukunya “MAKNA KASIH” menyatakan “ jika seorang pemuda jatuh cinta pada seorang gadis secara serius, ia terlempar ke luar dari cinta diri. Ia mulai hidup untuk orang lain.
 Pernyataan ini dijabarkan secara indah oleh William Shakespeare dalam kisah “ Romeo dan Juliet”. Bila di Indonesia kisah Rara Mendut Pranacitra.
Yose Ortega Y Gasset dalam novelnya “On Love” mengatakan “di kedalaman sanubarinya seorang pencinta merasa dirinya bersatu tanpa syarat dengan objek cintanya Persatuan bersifat kebersamaan yang mendasar dan melibatkan seluruh eksistensinya”.
Selanjutnya Yose mengatakan, bahwa si pecinta tidaklah akan kehilangan pribadinya dalam aliran energi cinta tersebut. Malahan pribadinya akan diperkaya, dan dibebaskan. Cinta yang demikian merupakan pintu bagi seseorang untuk mengenal dirinya sendiri.
Dibawah sorotan pandangan evolusi, cinta menjadi lebih agung lagi, karena ia merupakan daya pemersatu dalam alam semesta, dan kondisi utama yang memungkinkan hidup. Kemampuan mencintai ini memberi nilai pada hidup kita, dan menjadi ukuran terpenting dalam menentukan apakah kita maju atau tidak dalam evolusi kita.
Dari uraian di atas terlihat betapa agung dan sucinya cinta itu, bila seseorang mengobral cinta, maka orang itu merusak nilai cinta, yang berarti menurunkan martabat dirinya sendiri.
Cinta yang berlanjut menimbulkan pengertian mesra atau kemesraan. Kemesraan adalah perwujudan dari cinta.
Kemesraan dapat menimbulkan daya kreativitas manusia. Dengan kemesraan orang dapat menciptakan berbagai bentuk seni sesuai dengan kemampuan dan bakatnya.
Hubungan yang akrab dituangkan dalam bentuk seni misalnya seni pahat, seni patung, seni lukis, seni sastra, dan sebagainya sesuai dengan bakatnya. Dalam seni tari berbagai daerah mengenal bentuk tari kemesraan seperti tari “Karonsih” dari Jawa Tengah, tari “Gatotkaca Gandrung” juga dari Jawa Tengah. Tari “Merak” dari Jawa Barat, dan lain-lain yang biasanya ditarikan dalam resepsi perkawinan.
Dalam seni musik, lagu kemesraan hampir tiap menit kita dengar melalui radio atau alat media elektronika yang lain. Lagu-lagu kemesraan antara lain : “Cinta” ciptaan Rinto Harahap, “Mimpi-mimpi Tinggallah Mimpi” ciptaan Tirto Saputro dan lain-lain
Dapat disimpulkan bahwa :
                                Kemesraan adalah hubungan akrab antara pria-wanita atau suami-istri. Kemesraan merupakan bagian hidup manusia. Di dalam kehidupan manusia terdapat berbagai kasus kemesraan. Kemesraan dapat membangkitkan daya kreatifitas manusia untuk menciptakan atau menikmati seni budaya, seni sastra, seni musik, seni tari, seni lukis, dan sebagainya.
                                Dalam lukisan seni budaya itu mengandung nilai-nilai kehidupan, moral pelakunya, kebobrokan sosial, ketidakadilan, dan sebagainya. Semua itu wajib dikaji para cendekia agar dirinya tidak terkukung dalam bidangnya.

44.       Makna Pemujaan

Pemujaan adalah perwujudan cinta manusia kepada Tuhan. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini, dikarenakan pemujaan kepada Tuhan adalah inti, nilai, dan makan kehidupan yang sebenarnya. Penyebab hal itu terjadi adalah karena Tuhan pencipta alam semesta. Seperti dalam surat Al-Furqan ayat 59-60 yang menyatakan: “Dia yang menciptakan langit dan bumi beserta apa-apa diantara keduanya dalam enam rangkaian massa, kemudian Dia bertahta di atas singgasana-nya. Dia Maha Pengasih, maka tanyakanlah kepada-Nya tentang soal-soal apa yang perlu diketahui”. Selanjutnya ayat 60, “Bila dikatakan kepada mereka, Sujudlah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih”.
a.       Cara pemujaan
b.      Tempat pemujaan
c.       Berbagai seni sebagai manifestasi pemujaan
Dapat disimpulkan bahwa :
                                Pemujaan terhadap Tuhan pada hakikatnya merupakan manifestasi cinta kepada Tuhan. Cinta membangkitkan daya kreatifitas. Pengertian dasar kreatifitas adalah mencipta, menemukan, berkarya, mencari bentuk-bentuk yang dapat mewujudkan hubungan yang misterius. Dalam mencari bentuk-bentuk ini pemujaan dapat berupa : sembahyang sebagai media berkomunikasi, membangun tempat beribadah yang sebaik dan seindah mungkin, mencipta lagu, puisi novel, film, dan sebagainya.

55.       Makna Belas Kasihan

Dalam surat Yohanes dijelaskan ada 3 macam cinta : Pertama, cinta agape ialah cinta manusia kepada Tuhan yang diterangkan pada kegiatan Belajar. Kedua, cinta philia ialah cinta kepada ayah ibu (orang tua) dan saudara. Dan Ketiga, cinta eros/amor ialah cinta antara pria dan wanita. Beda antara cinta eros dan amor ini ialah cinta eros karena kodrati sebagai laki-laki dan perempuan, sedangkan cinta amor karena unsur-unsur yang sulit dinalar, misalnya gadis normal yang cantik mencintai dan mau dinikahi seorang pemuda yang kerdil.

66.       Cinta Kasih Erotis


Dalam cinta kasih persaudaraan merupakan cinta kasih antar orang yang sama dan sebanding, sedangkan cinta kasih ibu merupakan cinta kasih terhadap orang-orang lemah yang tanpa daya.

Daftar pustaka :

 Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta