1. Makna Keindahan
Keindahan adalah identik dengan kebenaran. Keindahan adalah kebenaran, dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah, yang tidak mengandung kebenaran berarti tak indah. Karena itu tiruan lukisan Monalsa tidak indah, karena dasarnya tidak benar.
Keindahan juga bersifat universal, artinya tidak terikat oleh selera perorangan, waktu dan tempat, selera mode, kedaerahan atau lokal.
a. Apakah keindahan itu?
Berbicara tentang keindahan mau tak mau kita harus menengok jauh ke belakang yaitu ke jaman Yunani Kuno, abad ke-18. Pada saat itu pengertian keindahan telah dipelajari oleh para filsuf. Keindahan menurut luasnya, dibedakan menjadi :
1. The Liang Gie menjelaskan, bahwa keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan. Misalnya Plato menyebut watak yang indah dan hukum yang indah, sedangkan Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan.
2. Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya.
3. Keindahan dalam arti yang terbatas mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna.
b. Nilai estetik
Dalam langka teori umum tentang nilai The Liang Gie menjelaskan bahwa, pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomi, nilai pendidikan, dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetik.
Masalah sekarang ini ialah apakah nilai estetik itu? Dalam bidang filsafat, istilah nilai seringkali dipakai sebagai suatu kata benda abstrak yang berarti keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness). Dalam "Dictionary of Sociology and Related Science" diberikan rumusan tentang nilai sebagai berikut :
"The believed Capacity of any object to saticgy a human desire. The Quality of any object which causes it be of interest to an individual or a group" (kemampuan yang dianggap ada pada suatu benda yang dapat emuaskan keinginan manusia; sifat dari suatu benda yang menarik minat seseorang atau suatu kelompok).
Hal itu berarti, bahwa nilai adalah semata-mata realita psikologi yang harus dibedakan secara tegas dari kegunaan karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada bendanya itu sendiri. Nilai itu (oleh orang) dianggap terdapat pada suatu benda sampai terbukti letak kebenarannya.
Tentang nilai itu ada yang membedakan antara nilai subjektif dan objektif, atau ada yang membedakan nilai perseorangan dan nilai kemasyarakatan. Tetapi penggolongan yang penting ialah nilai ekstrinsik dan nilai instrinsik.
Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya yakni nilai yang bersifat sebagai alat untuk membantu. Nilai intrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, atau pun demi kepentingan benda itu sendiri.
c. Apa sebab manusia mencipta keindahan?
Keindahan itu pada dasarnya alamiah. Alam itu ciptaan Tuhan. Ini berarti bahwa keindahan itu ciptaan Tuhan. Alamiah itu artinya wajar, tidak berlebihan tidak pula kurang.
Dapat disimpulkan bahwa :
Keindahan berasal dari kata "indah", berarti bagus, permai, cantik, molek, dan sebagainya. Benda yang mengandung keindahan ialah segala hasil seni dan alam semesta ciptaan Tuhan. Sangat luas kawasan keindahan bagi manusia. Karena itu kapan, dimana, dan siapa saja dapat menikmati keindahan.
2. Makna Renungan
Setiap orang pernah merenung. Sudah tentu kadar renungannya satu sama lain berbeda, meskipun obyek yang direnungkan sama, lebih pula apabila obyek renungannya berbeda. Jadi apa yang direnungkan itu bergantung kepada obyek dan subyek.
Setiap kegiatan untuk merenungkan atau mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah dimiliki dapat disebut berfilsafat. Pemikiran kefilsafatan mendasarkan diri kepada penalaran. Penalaran adalah proses berpikir yang logik dan analitik. Berpikir merupakan kegiatan untuk menyusun pengetahuuan yang benar. Berpikir logik menunjuk pola berpikir secara luas. Kegiatan berpikir dapat disebut logik ditinjau dari suatu logika tertentu. Maka ada kemungkinan suatu pemikiran yang logik akan menjadi tidak logik bila ditinjau dari sudut logika yang lain.
Pemikiran kefilsafatan mempunyai 3 macam ciri, yaitu :
1. Menyeluruh artinya pemikiran yang luas, bukan hanya ditinjau dari sudut pandangan tertentu. Pemikiran kefilsafatan ingin mengetahui hubungan antara ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu lain, hubungan ilmu dengan moral, seni dan tujuan hidup.
2. Mendasar artinya pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fudamental (ke luar dari gejala), sehingga dapat dijadikan dasar berpijak bagi segenap bidang keilmuan.
3. Spekulatif artinya hasilpemikiran yang dapat dijadikan dasar untuk pemikiran-pemikiran selanjutnya. Hasil pemikiran selalu dimaksudkan sebagai dasar untuk menjelajah wilayah pengetahuan yang baru.
3. Makna Keserasian
Keserasian berasal dari kata serasi; serasi dari kata dasar rasi artinya cocok, sesuai, atau kena benar. Kata cocok, sesuai atau kena mengandung unsur pengertian perpaduan, ukuran, dan seimbang. Perpaduan misalnya orang berpakaian antara kulit dan warna yang dipaki cocok. Sebaliknya orang hitam memakai warna hijau, tentu makin hitam. Warna hijau pantas dipaki orang berkulit kuning. Atau kepasar mempergunakan pakaian pesta, atau sebaliknya berpesta mempergunakan pakaian santai, dan lain-lain. Hal seperti ini tentu tidak serasi atau kurang kena. Dan tentu akan dikatakan oleh setiap orang "sayang" atau kata-kata lain yang menunjukkan kekecewaan. Oleh karena orang yang memandang itu merasa kecewa dengan adanya hal yang kurang serasi.
4. Makna Kehalusan
Kehalusan berasal dari kata halus artinya tidak kasar (perbuatan) lembut, sopan, baik (budi bahasa), beradab. Kehalusan berarti sifat-sifat yang halus, kesopanan, dan atau keadaban. Halus bagi manusia itu sendiri ialah berupa sikap, yakni sikap halus. Sikap halus adalah sikap lembut dalam menghadapi orang. Lembut dalam mengucapkan kata-kata, lembut dalam roman muka, lembut dalam sikap anggota badan lainnya.
Halus itu berarti suatu sikap manusia dalam pergaulan baik dalam masyarakat kecil maupun dalam masyarakat luas. Sudah tentu sebagai lawannya ialah sikap kasar atau sikap orang-orang yang sedang emosi, bersikap sombong, bersikap kaku, sikap orang yang sedang bermusuhan.
Sikap halus atau lembut merupakan gambaran hati yang tulus serta cinta kasih terhadap sesama. Sebab itu orang yang bersikap halus atau lembut biasanya suka memperhatikan kepentingan orang lain, dan suka menolong adalah orang lain. Sikap lembut merupakan perwujudan pola dari sifat-sifat ramah, sopan, sederhana dalam pergaulan.
5. Keindahan Objektif dan Subjektif
Ternyata bahwa dalam urusan keindahan itu tersangkut dua pihak, yaitu benda atau apa saja yang berperan sebagai objek dan siapa yang menanggapi sebagai pihak yang berperan sebagai subjek. Tidak setiap objek yang indah akan diterima atau ditanggapi oleh setiap subjek sebagai yang indah. Sebaliknya tidak setiap yang indah bagi seseorang akan dinilai indah pula bagi orang lain. Bukan tidak mungkin sesuatu yang sebenarnya tidak indah akan diterima sebagai yang indah oleh seseorang.
Atas dasar itu, sebenarnyalah keindahan itu menurut kenyataannya dapat dibedakan atas dua macam; yaitu keindahan objektif dan keindahan subjektif. Dengan keindahan objektif dimaksudkan ialah keindahan yang secara hakiki ada pada sesuatu benda atau apa saja. Keberadaan keindahan objektif ini tidak bergantung kepada pihak-pihak luar benda atau objek itu. Dengan kata lain, disenangi atau tidak objek tersebut tetap indah. Menurut Alexius Meinong (1838-1914) dan juga Christian Ehrenfels (1859-1932), "keindahan adalah kekayaan yang melekat pada objek itu sendiri". Sejalan dengan pendapat di atas ialah pendapat Pater Dick Hartoko. Menurut Pater Dick, "keindahan merupakan sesuatu yang melekat pada segala sesuatu yang ada, baik pada Tuhan maupun pada makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Selanjutnya oleh Pater Dick dikatakan bahwa sifat-sifat keindahan seperti itu disebutkan sebagai keindahan trasendental, yang mengatasi batas-batas yang memisahkan segala sesuatu yang ada. Keberadaannya tidak dapat dan tidak boleh diterapkan secara "univoque" melainkan secara "analog". Keindahan sebutir mutiara berbeda dengan keindahan sekuntum bunga mawar atau anggrek, berbeda pula dengan keindahan sebuah bangunan artistik dari suatu gedung modern, tidak sama pula dengan keindahan jiwa seorang yang saleh.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa keindahan objektif adalah keindahan menurut akal budi. Dengan demikian tanggapan yang muncul dari gerak akal budi akan selalu tepat benar dengan hakiki benda bersangkutan. Terhadap benda yang indah, akal budi akan mengatakannya indah. Sebaliknya terhadap benda yang secara hakiki tidak indah, akal budi akan mengatakan tidak indah. Ia tidak peduli dan tidak akan terpengaruh oleh keinginan-keinginan tertentu.
Daftar pustaka :
Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta
Rabu, 25 November 2015
Senin, 16 November 2015
MANUSIA DAN CINTA KASIH
11.
Makna Kasih Sayang
Dalam kamus
umum Bahasa Indonesia karangan W. J. S. Purwodarminto, kasih sayang diartikan
dengan perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang.
Ada
berbagai macam bentuk kasih sayang, bentuk itu sesuai dengan kondisi penyayang
dan yang disayangi.
Dalam
kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagian. Kasih sayang
ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Percintaan muda-mudi (pria-wanita) bila
diakhiri dengan perkawinan, maka di dalam berumah tangga keluarga muda itu
bukan lagi bercinta-cintaan, tetapi sudah bersifat kasih mengasihi atau saling
menumpahkan kasih sayang.
Dalam
kasih sayang ini sadar atau tidak dari masing-masing pihak dituntut tanggunga
jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling
terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh.
Bila
salah satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka
retaklah keutuhan rumah tangga itu. Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran,
akan terancamlah kebahagiaan rumah tangga.
Yang
dapat merasakan kasih sayang bukan hanya suami atau istri atau anak-anaknya
yang telah dewasa, melainkan bayi yang masih merah pun telah dapat merasakan
kasih sayang dari ayah atau ibunya.
Dapat disimpulkan bahwa :
Kasih
sayang dialami oleh setiap manusia, karena kasih sayang merupakan bagian hidup
manusia. Sejak lahir anak telah mengenal kasih sayang, meskipun ada pula
kelahiran anak tidak diharapkan, namun hal itu termasuk perkecualian. Kelahiran
anak yang tidak diharapkan, umumnya bukan lahir karena hasil kasih sayang.
Kasih
sayang yang berlebihan cenderung merupakan pemanjaan. Pemanjaan anak berakibat
kurang baik, karena umum nya anak yang dimanjakan menjadi anak yang sombong,
pemboros, tidak saleh, dan tidak menghormati orang tua.
22.
Kasih Sayang dalam Keluarga
Bila
percintaan pria-wanita di akhiri dengan perkawinan maka di dalam kehidupan berumah
tangga, keluarga ini akan menemukan kebahagiaan mereka. Cinta yang semula hanya
terbatas antara sepasang muda-mudi, kini berkembang dengan kasih sayang
terhadap si Buyung yang mungil. Demikianlah sketsa hidup yang kita harapkan.
Selanjutnya marilah kita mengikuti getaran kalbu seorang gadis mulai dari
cintanya pada si “dia” sampai pada munculnya si “buyung”. Betulkah gadis ini
berhasil menemukan kebahagiaan yang kekal dan menyeluruh?
Zaman sekarang
ini banyak orang merasakan bahwa kebahagiaan itu adalah suatu keadaan abstrak
yang sulit dicapai. Sebetulnya masih ada banyak jalan untuk menemukan
kebahagiaan atau setidak-tidaknya untuk mengurangi pukulan badai kehidupan.
Memang seringkali manusia tidak dapat lolos dari kesulitan sosial dan ekonomi.
Namun dengan membangun kasih sayang yang erat dalam keluarga maka
setidak-tidaknya kita mempunyai suatu tempat damai dan teduh di tengah
kemelutnya persoalan hidup. Dalam sajak Pada Suatu Bulan Yang Cerah kita dapati
sketsa seorang wanita yang melukiskan kasih sayang seperti tersebut di atas itu
dalam kata-kata “ia rumah yang teduh dan aku penghuni yang setia/kami bersatu”.
Wanita ini kemudian membangun keluarganya dengan menanamkan kasih sayang yang
lebih kokoh lagi.
33.
Makna Kemesraan
Kemesraan
pada dasarnya merupakan perwujudan kasih yang telah mendalam.
Filsuf Rusia,
Salovjev dalam bukunya “MAKNA KASIH” menyatakan “ jika seorang pemuda jatuh
cinta pada seorang gadis secara serius, ia terlempar ke luar dari cinta diri.
Ia mulai hidup untuk orang lain.
Pernyataan ini dijabarkan secara indah oleh
William Shakespeare dalam kisah “ Romeo dan Juliet”. Bila di Indonesia kisah
Rara Mendut Pranacitra.
Yose Ortega Y
Gasset dalam novelnya “On Love” mengatakan “di kedalaman sanubarinya seorang
pencinta merasa dirinya bersatu tanpa syarat dengan objek cintanya Persatuan
bersifat kebersamaan yang mendasar dan melibatkan seluruh eksistensinya”.
Selanjutnya
Yose mengatakan, bahwa si pecinta tidaklah akan kehilangan pribadinya dalam
aliran energi cinta tersebut. Malahan pribadinya akan diperkaya, dan
dibebaskan. Cinta yang demikian merupakan pintu bagi seseorang untuk mengenal
dirinya sendiri.
Dibawah sorotan
pandangan evolusi, cinta menjadi lebih agung lagi, karena ia merupakan daya
pemersatu dalam alam semesta, dan kondisi utama yang memungkinkan hidup.
Kemampuan mencintai ini memberi nilai pada hidup kita, dan menjadi ukuran
terpenting dalam menentukan apakah kita maju atau tidak dalam evolusi kita.
Dari uraian di
atas terlihat betapa agung dan sucinya cinta itu, bila seseorang mengobral
cinta, maka orang itu merusak nilai cinta, yang berarti menurunkan martabat
dirinya sendiri.
Cinta yang
berlanjut menimbulkan pengertian mesra atau kemesraan. Kemesraan adalah
perwujudan dari cinta.
Kemesraan dapat menimbulkan daya kreativitas manusia.
Dengan kemesraan orang dapat menciptakan berbagai bentuk seni sesuai dengan
kemampuan dan bakatnya.
Hubungan yang
akrab dituangkan dalam bentuk seni misalnya seni pahat, seni patung, seni
lukis, seni sastra, dan sebagainya sesuai dengan bakatnya. Dalam seni tari
berbagai daerah mengenal bentuk tari kemesraan seperti tari “Karonsih” dari Jawa
Tengah, tari “Gatotkaca Gandrung” juga dari Jawa Tengah. Tari “Merak” dari Jawa
Barat, dan lain-lain yang biasanya ditarikan dalam resepsi perkawinan.
Dalam seni musik,
lagu kemesraan hampir tiap menit kita dengar melalui radio atau alat media
elektronika yang lain. Lagu-lagu kemesraan antara lain : “Cinta” ciptaan Rinto
Harahap, “Mimpi-mimpi Tinggallah Mimpi” ciptaan Tirto Saputro dan lain-lain
Dapat disimpulkan bahwa :
Kemesraan
adalah hubungan akrab antara pria-wanita atau suami-istri. Kemesraan merupakan
bagian hidup manusia. Di dalam kehidupan manusia terdapat berbagai kasus
kemesraan. Kemesraan dapat membangkitkan daya kreatifitas manusia untuk
menciptakan atau menikmati seni budaya, seni sastra, seni musik, seni tari,
seni lukis, dan sebagainya.
Dalam
lukisan seni budaya itu mengandung nilai-nilai kehidupan, moral pelakunya,
kebobrokan sosial, ketidakadilan, dan sebagainya. Semua itu wajib dikaji para
cendekia agar dirinya tidak terkukung dalam bidangnya.
44.
Makna Pemujaan
Pemujaan adalah
perwujudan cinta manusia kepada Tuhan. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak
dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini, dikarenakan pemujaan kepada
Tuhan adalah inti, nilai, dan makan kehidupan yang sebenarnya. Penyebab hal itu
terjadi adalah karena Tuhan pencipta alam semesta. Seperti dalam surat
Al-Furqan ayat 59-60 yang menyatakan: “Dia yang menciptakan langit dan bumi
beserta apa-apa diantara keduanya dalam enam rangkaian massa, kemudian Dia
bertahta di atas singgasana-nya. Dia Maha Pengasih, maka tanyakanlah kepada-Nya
tentang soal-soal apa yang perlu diketahui”. Selanjutnya ayat 60, “Bila
dikatakan kepada mereka, Sujudlah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih”.
a.
Cara pemujaan
b.
Tempat pemujaan
c.
Berbagai seni sebagai manifestasi pemujaan
Dapat disimpulkan bahwa :
Pemujaan
terhadap Tuhan pada hakikatnya merupakan manifestasi cinta kepada Tuhan. Cinta
membangkitkan daya kreatifitas. Pengertian dasar kreatifitas adalah mencipta,
menemukan, berkarya, mencari bentuk-bentuk yang dapat mewujudkan hubungan yang
misterius. Dalam mencari bentuk-bentuk ini pemujaan dapat berupa : sembahyang
sebagai media berkomunikasi, membangun tempat beribadah yang sebaik dan seindah
mungkin, mencipta lagu, puisi novel, film, dan sebagainya.
55.
Makna Belas Kasihan
Dalam surat Yohanes dijelaskan ada 3 macam cinta : Pertama, cinta agape
ialah cinta manusia kepada Tuhan yang diterangkan pada kegiatan Belajar. Kedua,
cinta philia ialah cinta kepada ayah ibu (orang tua) dan saudara. Dan Ketiga,
cinta eros/amor ialah cinta antara pria dan wanita. Beda antara cinta eros dan
amor ini ialah cinta eros karena kodrati sebagai laki-laki dan perempuan,
sedangkan cinta amor karena unsur-unsur yang sulit dinalar, misalnya gadis
normal yang cantik mencintai dan mau dinikahi seorang pemuda yang kerdil.
66.
Cinta Kasih Erotis
Dalam
cinta kasih persaudaraan merupakan cinta kasih antar orang yang sama dan
sebanding, sedangkan cinta kasih ibu merupakan cinta kasih terhadap orang-orang
lemah yang tanpa daya.
Daftar pustaka :
Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta
Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta
Selasa, 10 November 2015
MANUSIA DAN KESUSASTRAAN
A. PENDEKATAN KESUSASTRAAN
IBD, yang semula dinamakan Basic Humanities, berasal dari bahasa inggris the humanities. Istilah ini berasal dari bahasa latin Humanus, yang berarti manusiawi, berbudaya, dan halus. Dengan mempelajari the humanities orang akan menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya, dan lebih halus. Jadi the humanities berkaitan dengan masalah nilai, yaitu nilai kita sebagai homonus.
Untuk menjadi homo humanus, manusia harus mempelajari ilmu, yaitu the humanities, disamping tanggung jawabnya yang lain. apa yang dimasukkan kedalam the humanities masih dapat diperdebatkan, dan kadang-kadang disesuaikan dengan keadaan dan waktu. Pada umumnya the humanities mencakup filsafat, teologi, seni dan cabang-cabangnya termasuk sastra, sejarah, cerita rakyat, dan sebagainya. Pada pokoknya semua mempelajari masalah manusia dan budaya. Karena itu ada yang menterjemahkan the humanities menjadi ilmu-ilmu kemanusiaan, ada juga yang menterjemahkan menjadi pengetahuan budaya.
Orientasi The Humanities adalah ilmu : Dengan mempelajari satu atau sebagian dari disiplin ilmu yang tercakup dalam the humanities, mahasiswa diharapkan dapat menjadi homo humanus yang lebih baik.
B. ILMU BUDAYA DASAR YANG DIHUBUNGKAN DENGAN PROSA
Istilah prosa banyak pandangannya. Kadang-kadang disebut narrative fiction, prose fiction, atau hanya fiction saja. Dalam bahasa indonesia istilah tadi sering diterjemahkan menjadi cerita rekaan dan didefinisikan sebagai bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa dan alur yang dihasilkan dari daya khayal atau imajinasi. Istilah cerita rekaan umumnya dipakai untuk roman, atau novel, atau cerita pendek.
Dalam kesusastraan Indonesia kita mengenal jenis prosa lama dan prosa baru.
- Prosa lama meliputi
2. Hikayat
3. Sejarah
4. Epos
5. Cerita pelipur lara
- Prosa baru meliputi
2. Roman/novel
3. Biografi
4. Kisah
5. Otobiografi
C. NILAI-NILAI DALAM PROSA FIKSI
Sebagai seni yang bertulang punggung cerita, mau tidak mau karya sastra (prosa fiksi) langsung atau tidak langsung membawa moral, pesan, atau cerita. Dengan perkataan lain prosa mempunyai nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat sastra antara lain :
1. Prosa fiksi memberikan kesenangan
Keistimewaaan kesenangan yang diperoleh dari membaca fiksi adalah pembaca pendapatkan pengalaman sebagaimana mengalaminya sendiri peristiwa itu peristiwa atau kejadian yang dikisahkan. Pembaca dapat mengembangkan imajinasinya untuk mengenal daerah atau tempat yang asing, yang belum dikunjunginya atau yang tak mungkin dikunjungi selama hidupnya. Pembaca juga dapat mengenal tokoh-tokoh yang aneh atau asing tingkah lakunya atau mungkin rumit perjalanan hidupnya untuk mencapai sukses.
2. Prosa fiksi memberikan infoermasi
Fiksi memberikan sejenis informasi yang tidak terdapat didalam ensiklopedi. Dalam novel sering kita dapat belajar sesuatu yang lebih daripada sejarah atau laporan jurnalistik tentang kehidupa masa kini, kehidupan masa lalu, bahkan juga kehidupan yang akan datang atau kehidupan yang asing sama sekali.
3. Prosa fiksi memberikan warisan kultural
Prosa fiksi dapat menstimuli imaginasi, dan merupakan sarana bagi pemindahan yang tak henti-hentinya dari warisan budaya bangsa.
4. Prosa memberikan keseimbangan wawasan
Lewat prosa fiksi seseorang dapat menilai kehidupan berdasarkan pengalaman-pengalaman dengan banyak individu. fiksi juga memungkinkan lebih banyak kesempatan untuk memilih respon-respon emosional atau rangsangan aksi yang mungkin sangat berbeda daripada apa yang disajikan dalam kehidupan sendiri.
D. ILMU BUDAYA DASAR YANG DIHUBUNGKAN DENGAN PUISI
Pembahasan puisi dalam rangka pengajaran IBD tidak akan diarahkan pada tradisi pendidikan dan pengajaran sastra dan apresiasinya yang murni. Puisi dipakai sebagai media sekaligus sebagai sumber belajar sesuai dengan tema-tema atau pokok bahasan yang terdapat didalam IBD.
Puisi ttemasuk seni sastra, sedangkan sastra bagian dari kesenian, dan kesenian cabang/unsur dari kebudayaan. Kalau diberi batasan, maka puisi adalah ekspresi pengalaman jiwa penyair mengenai kehidupan manusia, alam, dan Tuhan melalui media bahasa yang artistik/estetik, yang secara padu dan utuh dipadatkan kata-katanya.
Kepuitisan, keartistikan atau keestetikan bahasa puisi disebabkan oleh kreativitas penyair dalam membangun puisinya dengan menggunakan :
1. Figura bahasa seperti gaya personifikasi, metafora, perbandingan, alegori, dsb sehingga puisi menjadi segar, hidup, menarik, dan memberi kejelasan gambaran angan.
2. Kata-kata yang ambiquitas yaitu kata-kata yang bermakna ganda, banyak tafsir.
3. Kata-kata berjiwa yaitu kata-kata yang sudah diberi suasana tertentu, berisi perasaan, dan pengalaman jiwa penyair sehingga terasa hidup dan memukau.
4. Kata-kata konotatif yaitu kata-kata yang sudah diberi tambahan nilai-nilai rasa dan asosiasi-asosiasi tertentu.
5. Pengulangan, yang berfungsi untuk mengintensifkan hal-hal yang dilukiskan, sehingga lebih menggugah hati.
Adapun alasan-alasan yang yang mendasari penyajian puisi pada perkuliahan IBD adalah sebagai berikut :
1. Hubungan puisi dengan pengalaman hidup manusia.
2. Puisi dan keinsyafan/kesadaran individual.
3. Puisi dan keinsyafan sosiall.
Sumber : Widyo Nugroho dan Achmad Muchji
Rabu, 04 November 2015
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN
1. Pengertian kebudayaan
Kebudayaan = cultuur (bahasa belanda) = culture (bahasa inggris) = tsaqafah (bahasa arab), berasal dari perkataan Latin: " Colore" yang artinya mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. dari segi arti ini berkembanglah arti culture sebagai "segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam".
Ditinjau dari sudut bahasa indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa sansakerta "buddhayah", yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.
Pendapat lain mengatakan, bahwa kata budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budidaya, yang berarti daya dan budi. karena itu mereka membedakan antara budaya dan kebudayaan. budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa dan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa tersebut.
Mengenai definisi "kebudayaan", telah banyak sarjana-sarjana ilmu sosial yang mencoba menerangkan, ada dua orang sarjana antropologi yaitu A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn. Adapun ahli antropologi yang merumuskan definisi tentang kebudayaan secara sistematis dan ilmiah adalah E.B. Taylor, dalam bukunya "Primitive Culture". Definisi lain dikemukakan oleh R. Linton dalam buku : "The Cultural background of personality". Masih banyak definisi yang dikemukakan oleh para sarjana-sarjana indonesia. Sepintas lalu defini-definisi tersebut kelihatan berbeda-beda, namun sebenarnya prinsipnya sama, yaitu sama-sama mengakui adanya ciptaan manusia. Dapatlah kiranya ini kita tarik kesimpulan bahwa : Kebudayaan adalah hasil buah budi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup.
Hasil buah budi (budaya) manusia itu dapat kita bagi menjadi 2 macam :
1. Kebudayaan material (lahir), yaitu kebudayaan yang berwujud kebendaan, misalnya: rumah, gedung, alat-alat senjata, mesin-mesin, pakaian dan sebagainya.
2. Kebudayaaan immaterial (spiritual = batin), yaitu : Kebudayaan, adat istiadat, bahasa, ilmu pengetahuan dan sebagainya.
2. Wujud Kebudayaan dan unsur-unsurnya
Prof. Dr. Koentjoroningrat menguraikan tentang wujud kebudayaan menjadi 3 macam, yaitu:
1. Wujud kebudayaan sebagai kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya.
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Adapun unsur kebudayaan yang bersifat universal yang dapat kita sebut sebagai isi pokok tiap kebudayaan di dunia ini, ialah :
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia sehari-hari. Misalnya: pakaian, perumahan, alat rumah tangga, senjata, dan sebagainya.
2. Sistem mata pencaharian dan sistem ekonomi, Misalnya: pertanian, peternakan, sistem produksi.
3. Sistem kemasyarakatan, misalnya: kekerabatan, sistem perkawinan, sistem warisan.
4. Bahasa sebagai media komunikasi, baik lisan maupun tertulis.
5. Ilmu pengetahuan.
6. Kesenian, misalnya seni suara, seni rupa, seni gerak.
7. Sistem religi.
3. Hubungan antara Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan
- Hubungan Manusia dengan Masyarakat
Manusia hidupnya selalu di dalam masyarakat. Hal ini bukan hanya sekedar ketentuan (konstateren) semata-mata, melainkan mempunyai arti yang lebih dalam, yaitu bahwa hidup bermasyarakat itu adalah rukun bagi manusia agar benar-benar dapat mengembangkan budayanya dan mencapai kebudayaannya. Tanpa masyarakat hidup manusia tidak dapat menunjukkan sifat-sifat kemanusiaan. Misalnya Caspar Hauser yang berumur 18 tahun dia adalah anak yang diketemukan di Neurenberg (Jerman) belum pernah hidup bermasyarakat. Ternyata setelah dibawa ke dalam kehidupan masyarakat, ia tidak dapat berjalan dan berbahasa. Demikian pula Kala dan Komala, 2 orang anak perempuan yang diketemukan dalam sarang serigala di India juga mempunyai sifat-sifat seperti tersebut di atas.
- Hubungan Manusia dengan Kebudayaan
Dipandang dari sudut antropologi, manusia dapat ditinjau dari 2 segi, yaitu:
1. Manusia sebagai makhluk biologi.
2. Manusia sebagai makhluk sosio-budaya.
Sebagai makhluk biologi, manusia dipelajari dalam ilmu biologi atau anatomi dan sebagai makhluk sosio-budaya manusia dipelajari dalam antropologi budaya. Antropologi budaya menyelidiki seluruh cara hidup manusia, bagaimana manusia dengan akal budinya dan struktur fisiknya dapat mengubah lingkungan berdasarkan pengalamannya. Juga memahami, menuliskan kebudayaan yang terdapat dalam masyarakat manusia.
Akhirnya terdapat suatu konsepsi tentang kebudayaan manusia yang menganalisis masalah-masalah hidup sosial-kebudayaan manusia. Konsepsi tersebut ternyata memberi gambaran kepada kita bahwasanya hanya manusialah yang mampu berkebudayaan. Sedangkan pada hewan tidak memiliki kemampuan tersebut. Mengapa hanya manusia saja yang dapat memiliki kebudayaan? Hal ini dikarenakan manusia dapat belajar dan dapat memahami bahasa, yang kesemuanya itu bersumber pada akal manusia.
Kesimpulannya: bahwa hanya manusialah yang dapat menghasilkan kebudayaan, dan sebaliknya tidak ada kebudayaan tanpa manusia.
Hubungan Masyarakat dengan Kebudayaan
Masyarakat adalah kumpulan manusia yang hidup dalam suatu daerah tertentu, yang telah cukup lama, dan mempunyai aturan-aturan yang mengatur mereka, untuk menuju kepada tujuan yang sama.
Dalam masyarakat tersebut manusia selau memperoleh kecakapan, pengetahuan-pengetahuan baru, sehingga penimbunan (petandon) itu dalam keadaan yang sehat dan selalu bertambah isinya. Memang kebudayaan itu bersifat comulatif, bertimbun. Dapat diibaratkan: manusia adalah sumber kebudayaan, dan masyarakat adalah danau besar, di mana air dari sumber-sumber itu mengalir dan tertando. Manusia mengangsu/mengambil air dari danau itu. Maka dapatlah dikatakan manusia itu "mengangsuapikulan warih" (ambil air berpikulan air), sehingga tidaklah habis air dalam danau itu, melainkan bertambah banyak karena selalu ditambah oleh orang yang mengangsu itu. Jadi erat sekali hubungan antara masyarakat dengan kebudayaan. Kebudayaan tak mungkin timbul tanpa adanya masyarakat, dan eksistensi masyarakat itu hanya dapat dimungkinkan oleh adanya kebudayaan.
- Hubungan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan
Dengan melihat uraian tersebut diatas, maka ternyata bahwa manusia, masyarakat dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat lagi dipisahkan dalam artinya yang utuh. Karena ketiga unsur inilah kehidupan makhluk sosial berlangsung.
Masyarakat tidak dapat dipisahkan daripada manusia, karena hanya manusia saja yang hidup bermasyarakat yaitu hidup bersama-sama dengan manusia lain dan saling memandang sebagai penanggung kewajiban dan hak. Sebaliknya manusia pun tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Seorang manusia yang tidak pernah mengalami hidup bermasyarakat, tidak dapat menunaikan bakat-bakat manusianya yaitu mencapai kebudayaan. Dengan kata lain di mana orang hidup bermasyarakat, pasti akan timbul kebudayaan.
Adanya kebudayaan di dalam masyarakat itu merupakan bantuan yang besar sekali pada individu-individu, baik sejak permulaan adanya masyarakat sampai kini, di dalam melatih dirinya memperoleh dunianya yang baru. Dari setiap generasi manusia, tidak lagi memulai dan menggali yang baru, tetapi menyempurnakan bahan-bahan lama menjadi yang baru dengan berbagai macam cara, kemudian sebagai anggota generasi yang baru itu telah menjadi kewajiban meneruskan ke generasi selanjutnya segala apa yang mereka telah pelajari dari masa lampau dan apa yang mereka sendiri telah tambahkan pada keseluruhan aspek kebudayaan itu.
Setiap kebudayaan adalah sebagai jalan atau arah di dalam bertindak dan berpikir, sehubungan dengan pengalaman-pengalaman yang fundamental, dari sebab itulah kebudayaan itu tidak dapat dilepaskan dengan individu dan masyarakat.
Dan akhirnya di mana manusia hidup bermasyarakat di sanalah ada kebudayaan dan kesemuanya menjadi benda penyelidikan sosiologi.
Daftar pustaka :
Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta
Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta
Langganan:
Postingan (Atom)