11.
Makna Kasih Sayang
Dalam kamus
umum Bahasa Indonesia karangan W. J. S. Purwodarminto, kasih sayang diartikan
dengan perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang.
Ada
berbagai macam bentuk kasih sayang, bentuk itu sesuai dengan kondisi penyayang
dan yang disayangi.
Dalam
kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagian. Kasih sayang
ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Percintaan muda-mudi (pria-wanita) bila
diakhiri dengan perkawinan, maka di dalam berumah tangga keluarga muda itu
bukan lagi bercinta-cintaan, tetapi sudah bersifat kasih mengasihi atau saling
menumpahkan kasih sayang.
Dalam
kasih sayang ini sadar atau tidak dari masing-masing pihak dituntut tanggunga
jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling
terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh.
Bila
salah satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka
retaklah keutuhan rumah tangga itu. Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran,
akan terancamlah kebahagiaan rumah tangga.
Yang
dapat merasakan kasih sayang bukan hanya suami atau istri atau anak-anaknya
yang telah dewasa, melainkan bayi yang masih merah pun telah dapat merasakan
kasih sayang dari ayah atau ibunya.
Dapat disimpulkan bahwa :
Kasih
sayang dialami oleh setiap manusia, karena kasih sayang merupakan bagian hidup
manusia. Sejak lahir anak telah mengenal kasih sayang, meskipun ada pula
kelahiran anak tidak diharapkan, namun hal itu termasuk perkecualian. Kelahiran
anak yang tidak diharapkan, umumnya bukan lahir karena hasil kasih sayang.
Kasih
sayang yang berlebihan cenderung merupakan pemanjaan. Pemanjaan anak berakibat
kurang baik, karena umum nya anak yang dimanjakan menjadi anak yang sombong,
pemboros, tidak saleh, dan tidak menghormati orang tua.
22.
Kasih Sayang dalam Keluarga
Bila
percintaan pria-wanita di akhiri dengan perkawinan maka di dalam kehidupan berumah
tangga, keluarga ini akan menemukan kebahagiaan mereka. Cinta yang semula hanya
terbatas antara sepasang muda-mudi, kini berkembang dengan kasih sayang
terhadap si Buyung yang mungil. Demikianlah sketsa hidup yang kita harapkan.
Selanjutnya marilah kita mengikuti getaran kalbu seorang gadis mulai dari
cintanya pada si “dia” sampai pada munculnya si “buyung”. Betulkah gadis ini
berhasil menemukan kebahagiaan yang kekal dan menyeluruh?
Zaman sekarang
ini banyak orang merasakan bahwa kebahagiaan itu adalah suatu keadaan abstrak
yang sulit dicapai. Sebetulnya masih ada banyak jalan untuk menemukan
kebahagiaan atau setidak-tidaknya untuk mengurangi pukulan badai kehidupan.
Memang seringkali manusia tidak dapat lolos dari kesulitan sosial dan ekonomi.
Namun dengan membangun kasih sayang yang erat dalam keluarga maka
setidak-tidaknya kita mempunyai suatu tempat damai dan teduh di tengah
kemelutnya persoalan hidup. Dalam sajak Pada Suatu Bulan Yang Cerah kita dapati
sketsa seorang wanita yang melukiskan kasih sayang seperti tersebut di atas itu
dalam kata-kata “ia rumah yang teduh dan aku penghuni yang setia/kami bersatu”.
Wanita ini kemudian membangun keluarganya dengan menanamkan kasih sayang yang
lebih kokoh lagi.
33.
Makna Kemesraan
Kemesraan
pada dasarnya merupakan perwujudan kasih yang telah mendalam.
Filsuf Rusia,
Salovjev dalam bukunya “MAKNA KASIH” menyatakan “ jika seorang pemuda jatuh
cinta pada seorang gadis secara serius, ia terlempar ke luar dari cinta diri.
Ia mulai hidup untuk orang lain.
Pernyataan ini dijabarkan secara indah oleh
William Shakespeare dalam kisah “ Romeo dan Juliet”. Bila di Indonesia kisah
Rara Mendut Pranacitra.
Yose Ortega Y
Gasset dalam novelnya “On Love” mengatakan “di kedalaman sanubarinya seorang
pencinta merasa dirinya bersatu tanpa syarat dengan objek cintanya Persatuan
bersifat kebersamaan yang mendasar dan melibatkan seluruh eksistensinya”.
Selanjutnya
Yose mengatakan, bahwa si pecinta tidaklah akan kehilangan pribadinya dalam
aliran energi cinta tersebut. Malahan pribadinya akan diperkaya, dan
dibebaskan. Cinta yang demikian merupakan pintu bagi seseorang untuk mengenal
dirinya sendiri.
Dibawah sorotan
pandangan evolusi, cinta menjadi lebih agung lagi, karena ia merupakan daya
pemersatu dalam alam semesta, dan kondisi utama yang memungkinkan hidup.
Kemampuan mencintai ini memberi nilai pada hidup kita, dan menjadi ukuran
terpenting dalam menentukan apakah kita maju atau tidak dalam evolusi kita.
Dari uraian di
atas terlihat betapa agung dan sucinya cinta itu, bila seseorang mengobral
cinta, maka orang itu merusak nilai cinta, yang berarti menurunkan martabat
dirinya sendiri.
Cinta yang
berlanjut menimbulkan pengertian mesra atau kemesraan. Kemesraan adalah
perwujudan dari cinta.
Kemesraan dapat menimbulkan daya kreativitas manusia.
Dengan kemesraan orang dapat menciptakan berbagai bentuk seni sesuai dengan
kemampuan dan bakatnya.
Hubungan yang
akrab dituangkan dalam bentuk seni misalnya seni pahat, seni patung, seni
lukis, seni sastra, dan sebagainya sesuai dengan bakatnya. Dalam seni tari
berbagai daerah mengenal bentuk tari kemesraan seperti tari “Karonsih” dari Jawa
Tengah, tari “Gatotkaca Gandrung” juga dari Jawa Tengah. Tari “Merak” dari Jawa
Barat, dan lain-lain yang biasanya ditarikan dalam resepsi perkawinan.
Dalam seni musik,
lagu kemesraan hampir tiap menit kita dengar melalui radio atau alat media
elektronika yang lain. Lagu-lagu kemesraan antara lain : “Cinta” ciptaan Rinto
Harahap, “Mimpi-mimpi Tinggallah Mimpi” ciptaan Tirto Saputro dan lain-lain
Dapat disimpulkan bahwa :
Kemesraan
adalah hubungan akrab antara pria-wanita atau suami-istri. Kemesraan merupakan
bagian hidup manusia. Di dalam kehidupan manusia terdapat berbagai kasus
kemesraan. Kemesraan dapat membangkitkan daya kreatifitas manusia untuk
menciptakan atau menikmati seni budaya, seni sastra, seni musik, seni tari,
seni lukis, dan sebagainya.
Dalam
lukisan seni budaya itu mengandung nilai-nilai kehidupan, moral pelakunya,
kebobrokan sosial, ketidakadilan, dan sebagainya. Semua itu wajib dikaji para
cendekia agar dirinya tidak terkukung dalam bidangnya.
44.
Makna Pemujaan
Pemujaan adalah
perwujudan cinta manusia kepada Tuhan. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak
dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini, dikarenakan pemujaan kepada
Tuhan adalah inti, nilai, dan makan kehidupan yang sebenarnya. Penyebab hal itu
terjadi adalah karena Tuhan pencipta alam semesta. Seperti dalam surat
Al-Furqan ayat 59-60 yang menyatakan: “Dia yang menciptakan langit dan bumi
beserta apa-apa diantara keduanya dalam enam rangkaian massa, kemudian Dia
bertahta di atas singgasana-nya. Dia Maha Pengasih, maka tanyakanlah kepada-Nya
tentang soal-soal apa yang perlu diketahui”. Selanjutnya ayat 60, “Bila
dikatakan kepada mereka, Sujudlah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih”.
a.
Cara pemujaan
b.
Tempat pemujaan
c.
Berbagai seni sebagai manifestasi pemujaan
Dapat disimpulkan bahwa :
Pemujaan
terhadap Tuhan pada hakikatnya merupakan manifestasi cinta kepada Tuhan. Cinta
membangkitkan daya kreatifitas. Pengertian dasar kreatifitas adalah mencipta,
menemukan, berkarya, mencari bentuk-bentuk yang dapat mewujudkan hubungan yang
misterius. Dalam mencari bentuk-bentuk ini pemujaan dapat berupa : sembahyang
sebagai media berkomunikasi, membangun tempat beribadah yang sebaik dan seindah
mungkin, mencipta lagu, puisi novel, film, dan sebagainya.
55.
Makna Belas Kasihan
Dalam surat Yohanes dijelaskan ada 3 macam cinta : Pertama, cinta agape
ialah cinta manusia kepada Tuhan yang diterangkan pada kegiatan Belajar. Kedua,
cinta philia ialah cinta kepada ayah ibu (orang tua) dan saudara. Dan Ketiga,
cinta eros/amor ialah cinta antara pria dan wanita. Beda antara cinta eros dan
amor ini ialah cinta eros karena kodrati sebagai laki-laki dan perempuan,
sedangkan cinta amor karena unsur-unsur yang sulit dinalar, misalnya gadis
normal yang cantik mencintai dan mau dinikahi seorang pemuda yang kerdil.
66.
Cinta Kasih Erotis
Dalam
cinta kasih persaudaraan merupakan cinta kasih antar orang yang sama dan
sebanding, sedangkan cinta kasih ibu merupakan cinta kasih terhadap orang-orang
lemah yang tanpa daya.
Daftar pustaka :
Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta
Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar