Selasa, 15 Desember 2015

MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP

1. Pandangan Hidup dan Ideologi
Ideologi menurut William (1959) mengandung dua hal, yaitu : (1) unsur-unsur filsafat yang digunakan, atau unsur yang digunakan sebagai dasar suatu kegiatan, dan (2) pembenaran intelektual untuk seperangkat norma-norma. Munandar Sulaiman menyatakan bahwa ideologi merupakan komponen dasar terakhir dari sistem-sistem sosiobudaya, bagi masyarakat, ideologi tersusun dari tiga unsur yaitu :

1) Pandangan hidup

2) Nilai-nilai, dan

3) Norma-norma

Masyarakat modern dalam berbagai hal telah menciptakan adanya konflik pandangan-pandangan untuk pengabdian dirinya. Sebagai contoh, masyarakat industri berpandangan hidup bukan merupakan sumber integrasi seperti masyarakat lama tetapi cenderung melaksanakan reideologi, dan retradisionalisasi.

Pancasila merupakan pandangan hidup yang berakar dalam kepribadian bangsa, maka ia diterima sebagai dasar negara yang mengatur ketatanegaraan. Hal ini tampak dalam sejarah bahwa meskipun dituangkan dalam rumusan yang agak pernah kita miliki, yaitu Mukadimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat dan dalam Preambul Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia, Pancasila itu tetap tercantum di dalamnya, Pancasila yang selalu dikukuhkan dalam kehidupan konstitusional itu, Pancasila yang selalu pasangan bersama pada saat-saat terjadi krisis nasional dan ancaman terhadap eksistensi selalu dikehendaki sebagai dasar negara.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi pandangan hidup adalah sebagai pegangan dan pedoman bagaimana cara memecahkan masalah kehidupan bangsa yang makin maju agar kokoh lestari dan bahagia.

2. Makna Cita-cita

Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup. Cita-cita, kebajikan dan sikap hidup itu tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Dalam kehidupannya manusia tidak dapat melepaskan diri dari cita-cita, kebajikan dan sikap hidup itu.

Sejak bayi lahir atau bahkan sejak dalam kandungan, orang tua telah mencita-citakan agar anaknya kelak menjadi ini atau itu, sudah tentu sesuai dengan keinginan orang tuanya. Apakah keinginan orang tua itu kelak terwujud atau tidak bergantung kepada perkembangan dan lingkungan. Yang jelas begitu bayi lahir ayah-ibunya menimang-nimang agar kelak anaknya menjadi dokter, insinyur, jenderal, gubernur dan sebagainya.

keinginan orang tua atas anaknya bergantung kepada pendidikan, pengalaman dan lingkungan orang tua. Orang tua yang petani dan buta huruf serta mempunyai sosial ekonomi lemah mungkin hanya berkeinginan agar anaknya pandai, atau cukup mengharapkan anaknya kelak jangan menderita seperti mereka. Tidak ada orang tua yang berkeinginan anaknya menjadi orang yang tidak baik, sekalipun orang tuaya seperti Kusni Kasdut. Atau biarpun orang tuanya dibenci orang karena tingkah lakunya, sifatnya, ketamakannya, kesadisannya dan sebagainya.

Kadang-kadang cita-cita diartikan angan-angan. Hal ini terjadi bahkan pada anak yang masih bersekolah di TK atau SD atau bahkan sebelum sekolah. Bila anak itu ditanya orang tua,”ingin jadi polisi!” atau “ingin jadi ABRI!” atau “ Penerbang”. Hal ini disebabkan polisi, ABRI, selalu tampak gagah dan tegap di matanya, sedangkan penerbang kelihatan hebat pada saat terbang melintas di udara.

Dapat disimpulkan bahwa:

Cita adalah hati; cita-cita adalah suatu keinginan yang terkandung di dalam hati. Karena itu cita-cita juga berarti angan-angan, keinginan, harapan, atau tujuan.

3. Makna Kebajikan

Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakikatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama atau etika.

Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik, makhluk bermoral. Atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik.

Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari tiga segi, yaitu: manusia sebagai pribadi, manusia sebagai anggota masyarakat, dan manusia sebagai makhluk Tuhan.

Manusia sebagai pribadi dapat menentukan baik-buruk. Yang menentukan baik-buruk itu suara hati. Suara hati itu semacam bisikan dalam hati untuk menimbang perbuatan baik atau tidak. Jadi suara itu merupakan hakim terhadap diri sendiri. Suara hati sebenarnya telah memilih yang baik, namun manusia seringkali tidak mau mendengarkan.

Demikian pula suara hati masyarakat, yang menentukan baik-buruk adalah suara hati masyarakat. Suara hati manusia adalah baik, tetapi belum tentu suara hati masyarakat menganggap baik. Sebagai anggota masyarakat, manusia tidak dapat membebaskan diri dari kemasyarakatannya.

Sebagai makhluk Tuhan, manusia pun harus mendengarkan suara hati Tuhan. Suara Tuhan selalu membisikkan agar manusia berbuat baik dan mengelakan perbuatan yang tidak baik. Jadi, untuk mengukur perbuatan baik-buruk, harus kita dengar pula suara Tuhan atau kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan berbentuk hukum agama atau hukum Tuhan.

Jadi kebajikan itu adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat dan hukum Tuhan. Kebajikan berarti berlaku sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang melihatnya.

Namun ada pula kebajikan semu, yaitu kejahatan yang berselubung kebajikan. Kebajikan semu ini sangat berbahaya, karena pelakunya orang-orang munafik, yang bermaksud mencari keuntungan diri sendiri.

4. Makna Sikap Hidup

Sikap hidup ialah keadaan hati dalam menghadapi hidup ini. Apakah kita mempunyai sikap yang positif atau negatif? Apakah kita mempunyai sikap optimis atau pesimis? Apakah kita mempunyai sikap apatis?

Sikap itu ada di dalam hati kita dan hanya kitalah yang tahu. Orang lain hanya baru tahu setelah kita bertindak.

Sikap itu penting; setiap manusia mempunyai sikap dan sudah tentu tiap-tiap orang berbeda sikapnya. Sikap dapat di bentuk sesuai dengan kemauan yang membentuknya. Pembentukan sikap ini terjadi melalui pendidikan. Seperti halnya seorang militer yang bersikap tegas, berdisiplin tinggi, sikap ksatria, karena dalam kemiliteran ia dididik ke arah sikap itu.

Dapat disimpulkan bahwa:

Sikap hidup adalah perasaan hati, dalam menghadapi hidup ini, sikap itu bisa positif, bisa negatif, bisa apatis, atau sikap optimis atau pesimis, bergantung kepada pribadi orang itu dan juga lingkungannya.

Setiap manusia mempunyai kadar sikap. Kadar sikap yang dimiliki manusia satu sama lain tidak sama. Sikap orang dapat berubah sekonyong-konyong karena situasi dan kondisi lingkungan.

5. Manusia dan Pandangan Hidup

Kalau ada orang yang punya prinsip bahwa kalau merasa dingin di waktu malam ataupun di pegunungan jangan dirasakan sangat menekan dan jangan diusahakan dilawan dengan selimut, tetapi tenangkan jalur urat-urat anda agar tidak terasa dingin. Ini bukan pandangan hidup (princeple) atau way of life, hanya satu di antara petunjuk-petunjuk melawan kedinginan atau kesegaran jasmani. Pandangan hidup berupa sesuatu penggaris yang mungkin dapat dinyatakan dengan kata-kata sebagai rumusan/formula, tetapi juga tak dapat dinyatakan dengan rumusan, sebab disamping:

a. Orang sulit menyusun perasaan, pikiran, dan kejiwaannya:

b. Juga karena ia sendiri menyadari bahwa mungkin ia dapat berbuat/bertindak yang melanggar prinsip-prinsip yang dikatakan.

c. Dan khawatir kalau-kalau ada kritik besar dan penyelewengan pandangan hidup dari anak-anak atau orang yang dibimbing.

Pandangan hidup merupakan suatu dasar atau landasan untuk membimbing kehidupan rohani dan jasmani, itu berguna bagi perorangan (individual), kelompok atau masyarakat, bahkan negara dan juga Undang-Undang serta peraturan-peraturan harus merupakan pancaran dari pandangan hidup yang sudah dirumuskan. Dalam kehidupan perseorangan menurut gambaran Drijarko S.J. mengatakan bahwa manusia itu serba terhubung dengan dunia jasmani sekitarnya, terhubung erat dengan masyarakat dan akhirnya manusia itu tergantung sseluruhnya pada yang ada, yang mutlak, yaitu Tuhan. Dengan demikian kita memperoleh beberapa ide atau pengertian-pengertian tentang manusia dan persoalan manusia yang sangat fundamental, yang bersifat hakiki, yang mau tidak mau menyangkut-pautkan setiap orang.

Pandangan hidup adalah juga filsafat hidup. Sesuai dengan arti filsafat yaitu cinta akan kebenaran tentulah bentuk kebenaran yang akan dicapai adalah kebenaran yang dapat diterima oleh siapa saja. Pandangan hidup dimiliki oleh semua orang atau semua golongan, maka penggolongan yang paling ringan adalah pandangan berdasar:
a. Beragama, beriman.
b. Tidak beragama tetapi mengikuti garis ajaran satu atau lebih dari agama yang ada.
c. Materialistik dan sekuler.

Daftar Pustaka :

Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar