Rabu, 30 Desember 2015

KAMPUNG BUDAYA BETAWI SETU BABAKAN


PERKAMPUNGAN BUDAYA BETAWI SETU BABAKAN

pintu utama kampung budaya betawi

Apa yang ada dipikiran kalian tentang perkampungan ini ? mungkin kelihatannya “Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan” adalah sebuah perkampungan biasa saja. Dan hanya sebagian besar orang yang mengetahui tentang kampung ini.Kampung ini merupakan salah satu tempat yang masih melestarikan kebudayaan Betawi seperti ; rumah adat, makanan khas betawi ,kesenian betawi dan masih banyak lagi yang berkaitan dengan kebudayaan betawi .Lokasi kampung ini tidak jauh dari pusat Kota Jakarta yaitu terletak di Srengseng Sawah,Kecamatan Jagakarsa ,Jakarta Selatan ,Indonesia.
Dari perkampungan yang luasnya mencapai 289 hektar, 65 hektar diantaranya adalah milik pemerintah dimana yang baru dikelola hanya 32 hektar.Perkampungan ini didiami setidaknya 3000 kepala keluarga.Sebagian besar penduduknya adalah orang asli betawi yang sudah turun temurun  tinggal di daerah tersebut.Sedangkan sebagian kecil lainnya adalah para pendatang,seperti pendatang dari Jawa Barat,Jawa Tengah ,Kalimantan, dll yang sudah tinggal lebih dari 30 tahun di daerah ini.
danau kampung budaya betawi

Situ atau Setu Babakan merupakan danau buatan dengan area 32 hektar(79 akre) dimana airnya berasal dari Sungai Ciliwung dan saat ini digunakan untuk memancing bagi warga sekitarnya.Danau ini juga merupakan tempat untuk rekreasi air seperti memancing,sepeda air atau bersepeda mengelilingi tepian danau.
Setu Babakan ,sebagai sebuah kawasan Cagar Budaya Betawi,sebenarnya merupakan objek wisata yang terbilang baru.Peresmiannya sebagai kawasan Cagar Budaya dilakukan pada tahun 2004,yakni bersamaan dengan peringatan Hut DKI Jakarta ke-474.
rumah adat betawi (tampak dari luar)

rumah adat betawi (tampak dari dalam)

Untuk saat ini hanya beberapa rumah saja yang masih bertahan menggunakan bangunan khas Betawi ini.Banyak terlihat rumah-rumah warga yang sudah direnovasi menggunakan tipe-tipe rumah jaman sekarang ini atau yang disebut rumah minimalis.namun kita masih dapat melihat rumah khas Betawi ini ditempat tempat tertentu misalnya saja di tempat pengelola Kampung Budaya ini atau disepanjang jalan perkampungan pun masih dapat ditemukan rumah warga yang masih menggunakan ornament-ornamen  rumah khas betawi seperti pagar rumah atau dari segi atap meski sekarang sudah agak terlihat lebih modern.
Bahasa  sehari-hari yang digunakan pun menggunakan bahasa umum atau bahasa Indonesia tidak baku bukan menggunakan bahasa khas betawi contohnya “iya”  menjadi “iye”
Untuk pekerjaan warga di kampung ini pun beragam namun banyak di kawasan ini yang mencari keuntungan lewat berdagang di sepanjang tepian danau sebagai mata pencaharian mereka.khususnya menjual makanan khas betawi contohnya ; kerak telor ,dodol betawi , es goyang dan masih banyak lagi .
Di perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan ini kita bisa melihat kesenian-kesenian betawi ,biasanya di hari minggu itu banyak ditemukan anak-anak yang sedang latihan menari di panggung pagelaran atau bahkan Tarian yang disuguhkan untuk pengunjung sebagai hiburan . dan wilayah ini masih melakukan tradisi betawi seperti adat pernikahan,sunatan,akekah,hatam quran,nujuh bulan dan masih banyak lagi.
Sumber :
Survei langsung ke Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan dan Wawancara dari berbagai sumber .
Nama kelompok :
1.       Budi Novia
2.       Dian Retno Adya Pangestika
3.       I Putu Adhi
4.       Ledepri S
5.       Risa Pratiwi
Kelas : 1EA25

MANUSIA DAN KEGELISAHAN

1. Kegelisahaan dan Sumber-sumbernya

Pada prinsipnya manusia merupakan makhluk yang diarahkan oleh motivasi dan cita-citanya. Hampir semua tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai usaha untuk memuaskan hasrat biologis mereka. Tetapi tujuan itu sering sulit atau bahkan kemungkinan kecil untuk dicapai. Kegelisahan disini diartikan suatu kondisi dimana orang menghadapi halangan atau rintangan dalam mengatasi rintangan tersebut. Pada hakekatnya kegelisahan menunjuk pada motivasi yang terhalang dan dalam keadaan tak terpuaskan.

Banyak orang berpikir bahwa kegelisahan merupakan keadaan yang tak “diinginkan”. Tetapi para ahli jiwa berpikir bahwa kegelisahan merupakan kondisi hidup manusia, atau sebagai “kawan akrab” yang memberi stimulus kepada tingkah laku menusia. Kegelisahan yang tak terhindarkan disebabkan oleh kompleksitas manusia, lingkungan di mana ia tinggal, dan keterbatasan fisik dan jiwanya.

2. Makna Kegelisahan

Kegelisahan berasal dari kata gelisah, artinya resah, rasa tidak tentram, rasa selalu khawatir, tidak tenang (tidurnya), tidak sabar menunggu, cemas, dan sebagainya.

Menurut Sigmund Freud ada tiga macam kecemasan yakni: kecemasan obyektif, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral. Kecemasan neurotik itu dibedakan atas: kecemasan atas bayangan sendiri, kecemasan irrasional dan rasa gugup atau gagap.

Kecemasan moral, yaitu diakibatkan oleh sifat tamak, kikir, iri hati, dengki, dan sifat-sifat lain yang sangat tidak terpuji baik di hadapan sesama manusia, apalagi di hadapan Tuhan pencipta alam dan seluruh isinya. Dengan adanya sifat ini manusia akan mengalami rasa khawatir, takut, cemas, bahkan putus asa.

Sebab-sebab kegelisahan pada hakikatnya ialah karena takut akan kehilangan, hak nama baik, dan sebagainya.

Untuk mengatasi kegelisahan, kita harus bersikap tenang, selain itu kita harus pasrah, percaya dan berlindung kepada kekuasaan Tuhan.

3. Makna Keterasingan

Keterasingan berasal dari kata terasing, dan dari kata dasar asing, artinya sendiri, tidak kenal orang, kata terasing berarti tersisih dari pergaulan, terpisahkan dari yang lain atau terpencil.

Keterasingan umumnya terjadi karena sikap sombong, angkuh, pemarah, suka berkelahi dan sikap rendah diri. Sebab sikap rendah diri itu bermacam-macam antara lain : cacat fisik, sosial ekonomi, pendidikan atau pengalaman, dan perbuatan yang tidak dapat diterima oleh masyaraka. Dalam kehidupan banyak contoh hidup keterasingan ini, karena keterasingan itu merupakan bagian hidup manusia.

Bila direnungkan dalam-dalam orang hidup dalam keterasingan itu pada hakikatnya karena takut akan kehilangan haknya: yaitu hak hidup, hak nama baik, atau harga diri, hak memiliki sesuatu, dan hak-hak manusia yang lain.

4. Makna Kesepian

Kesepian berasal dari kata sepi, akhirnya sunyi, lengang, tidak ada apa-apa, tidak ada siapa-siapa, kurang pembeli (dagang), tidak banyak tamu, dan lain-lain.

Kesepian adalah bagian hidup manusia, tiap orang pernah mengalami rasa kesepian. Lama atau tidak perasaan sepi itu singgah di hati bergantung kepada masalah yang menimpa dan jiwa orang yang megalaminya.

Orang mengasingkan diri sehingga kesepian mungkin karena kesombongannya, mungkin pula karena sikap rendah diri. Tetapi sebab utama kesepian itu ialah manusia takut kehilangan hak hidup atau hak memiliki nama baik (harga diri).

5. Makna Ketidakpastian

Ketidakpastian berasal dari kata tidak pasti artinya tidak menentu pikirannya kacau, tidak dapat berkonsentrasi, bingung, tidak dapat berpikir dengan baik.

Orang yang tidak dapat berpikir dengan baik itu biasanya karena mentalnya terganggu. Gangguan mental itu bermacam-macam tanda-tandanya, misalnya obsesi, kompulsi, phobia, delusi, histeria, halusinasi, emosi, dan sebagainya. Orang yang sedang dilanda tanda-tanda itu pikirannya kacau, tidak dapat berpikir dengan baik. Andaikata bisa berpikir dengan baik, makan waktu cukup lama.

Untuk mengatasi atau untuk menghilangkan pikiran yang kacau itu perlu dicari penyebabnya, andaikata telah diketahui penyebabnya tetap masih sakit, penderita perlu diajak pergi atau pergi sendiri ke psikolog.

Daftar pustaka : Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta

Selasa, 22 Desember 2015

MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB

1. Manusia dan Tanggung Jawab

Pengertian yang kita peroleh sehari-hari untuk kata "pertanggungjawaban" dari kata "tanggung jawab" yaitu beban (kejiwaan) yang melandasi pelaksanaan kewajiban (ataudalam melakukan kewajiban) dari tugas tertentu.
Kesanggupan seseorang untuk melaksanakan suatu tugas wajib (atau lazimnya disebut kewajiban) yang diberikan kepadanya, dapat dikatakan bahwa ia bertanggung jawab, khususnya bertanggung jawab terhadap selesainya tugas itu. Sebaliknya bila ia lalai menjalankan tugasnya, akan dikatakan tidak mempunyai tanggung jawab moral. Tidak mempunyai kewajiban, tidak dapat disamakan dengan tidak mempunyai tanggung jawab, sebab memang tidak ada kewajiban atau tugas yang harus dikerjakan.
Di dalam ajaran islam dikenal adanya tugas-tugas yang bersifat wajib (fardhu) dan bersifat sunnah. Dari fardhu inilah nampaknya, kemudian berkembang nilai-nilai tanggung jawab di kalangan masyarakat luas.
Kewajiban lahir karena adanya:
a. hubungan antara manusia dengan manusia lain
b. hubungan antara manusia dengan Tuhannya, dan dari dalam bentuk dan kadar yang berbeda antara satu dengan lainnya.
Ada kalanya sebagian dari tanggung jawab seseorang itu dilimpahkan kepada orang lain. Seorang guru misalnya, dia menerima sebagian tanggung jawab orang tua dalam hal mendidik anaknya. Dalam hubungannya dengan tanggung jawab, Prof. Drijarkara mengatakan, bahwa manusia itu mempunyai hukum kodrat. Agar ia menjadi manusia yang baik, ia harus memiliki sikap dasar, seperti selalu siap sedia untuk berbuat kebaikan. Sikap dasar tersebut mempunyai banyak aspek. Salah satu aspek itu ialah tanggung jawab. Bila dihubungkan dengan kewajiban, menurut beliau, rasa tanggung jawab itu dapat berupa siap sedia untuk melakukan kewajiban.

2. Makna Tanggung Jawab

Tanggung Jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai pewujudan kesadaran akan kewajibannya.
Manusia adalah makhluk pribadi, karena itu manusia mempunyai tanggung jawab secara pribadi atas segala perbuatannya. Tetapi karena manusia juga makhluk sosial maka seringkali perbuatan itu menyangkut masyarakat, sehingga manusia pun harus bertanggung jawab kepada masyarakat.
Tak dapat dielakkan, bahwa manusia adalah warga negara suatu negara. Karena itu manusia mempunyai kewajiban terhadap negara. Bila manusia melalaikan kewajibannya, sudah tentu ia harus bertanggung jawab kepada negara.
Manusia ada bukan dengan sendirinya, tetapi merupakan ciptaan Tuhan, Karena itu manusia berkewajiban terhadap Tuhan. Kelalaian akan kewajibannya terhadap Tuhan, harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.

3. Makna Pengabdian

Pengabdian adalah perbuatan manusia baik yang berupa pikiran, pendapat, ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan cinta, kasih sayang, hormat, atau suatu ikatan dan semua dilakukan secara ikhlas. Pengabdian pada dasarnya adalah rasa tanggung jawab.
Manusia hidup berkeluarga, karena itu manusia wajib mengabdi kepada keluarga, karena anggota masyarakat, manusia wajib mengabdi kepada masyarakat. Manusia sebagai anggota suatu bangsa dan warga negara suatu negara, wajib mengabdi kepada bangsa dan negaranya.
Karena manusia makhluk ciptaan Tuhan, maka manusia wajib mengabdi kepada Tuhan.

4. Makna Kesadaran

Kesadaran adalah keinsyafan akan perbuatannya. Sadar artinya merasa, tahu atau ingat (kepada keadaan yang sebenarnya), keadaan ingat akan dirinya, ingat kembali (dari pingsannya), siuman, bangun (dari tidur) ingat, tahu, dan mengerti, misalnya rakyat telah sadar akan politik.
Dalam berbuat, kadang-kadang orang hanya melanggar suatu norma, kadang-kadang sekaligus melanggar dua tiga norma, bahkan ada yang langsung melanggar tiga norma.
Kesadaran moral amat penting untuk diperhatikan orang, karena pelanggaran moral dapat berakibat merusak nama. Oleh ini tidak berarti bahwa kesadaran yang lain tidak penting. Semua kesadaran penting, karena ketidaksadaran adalah salah satu hal yang dapat menggoncangkan atau sekuang-kurangnya membuat kepincangan dalam hidup.

5. Makna Pengorbanan

Pengorbanan ialah pemberian secara ikhlas yang berupa pikiran, pendapat, harta, waktu, tenaga, bahkan mungkin nyawa, demi cinta, kesetiaan, ikatan sesuatu, kebenaran, dan mungkin juga kesetiakawanan.
Manusia hidup sebagai pribadi, sebagai bangsa dan warga negara suatu negara, dan juga sebagai makhluk ciptaan Tuhan; karena itu, dalam kehidupan ada bermacam-macam jenis pengorbanan.
Pengorbanan demi kelurga, pengorbanan demi hidup di msyarakat, pengorbanan demi cinta kepada bangsa negara, pengorbanan demi kebenaran dan pengorbanan demi cinta kepada agama dan cinta kepada Tuhan, semua itu tidak lepas dari kehidupan manusia.

Daftar pustaka : Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta

Selasa, 15 Desember 2015

MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP

1. Pandangan Hidup dan Ideologi
Ideologi menurut William (1959) mengandung dua hal, yaitu : (1) unsur-unsur filsafat yang digunakan, atau unsur yang digunakan sebagai dasar suatu kegiatan, dan (2) pembenaran intelektual untuk seperangkat norma-norma. Munandar Sulaiman menyatakan bahwa ideologi merupakan komponen dasar terakhir dari sistem-sistem sosiobudaya, bagi masyarakat, ideologi tersusun dari tiga unsur yaitu :

1) Pandangan hidup

2) Nilai-nilai, dan

3) Norma-norma

Masyarakat modern dalam berbagai hal telah menciptakan adanya konflik pandangan-pandangan untuk pengabdian dirinya. Sebagai contoh, masyarakat industri berpandangan hidup bukan merupakan sumber integrasi seperti masyarakat lama tetapi cenderung melaksanakan reideologi, dan retradisionalisasi.

Pancasila merupakan pandangan hidup yang berakar dalam kepribadian bangsa, maka ia diterima sebagai dasar negara yang mengatur ketatanegaraan. Hal ini tampak dalam sejarah bahwa meskipun dituangkan dalam rumusan yang agak pernah kita miliki, yaitu Mukadimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat dan dalam Preambul Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia, Pancasila itu tetap tercantum di dalamnya, Pancasila yang selalu dikukuhkan dalam kehidupan konstitusional itu, Pancasila yang selalu pasangan bersama pada saat-saat terjadi krisis nasional dan ancaman terhadap eksistensi selalu dikehendaki sebagai dasar negara.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi pandangan hidup adalah sebagai pegangan dan pedoman bagaimana cara memecahkan masalah kehidupan bangsa yang makin maju agar kokoh lestari dan bahagia.

2. Makna Cita-cita

Pandangan hidup terdiri atas cita-cita, kebajikan, dan sikap hidup. Cita-cita, kebajikan dan sikap hidup itu tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Dalam kehidupannya manusia tidak dapat melepaskan diri dari cita-cita, kebajikan dan sikap hidup itu.

Sejak bayi lahir atau bahkan sejak dalam kandungan, orang tua telah mencita-citakan agar anaknya kelak menjadi ini atau itu, sudah tentu sesuai dengan keinginan orang tuanya. Apakah keinginan orang tua itu kelak terwujud atau tidak bergantung kepada perkembangan dan lingkungan. Yang jelas begitu bayi lahir ayah-ibunya menimang-nimang agar kelak anaknya menjadi dokter, insinyur, jenderal, gubernur dan sebagainya.

keinginan orang tua atas anaknya bergantung kepada pendidikan, pengalaman dan lingkungan orang tua. Orang tua yang petani dan buta huruf serta mempunyai sosial ekonomi lemah mungkin hanya berkeinginan agar anaknya pandai, atau cukup mengharapkan anaknya kelak jangan menderita seperti mereka. Tidak ada orang tua yang berkeinginan anaknya menjadi orang yang tidak baik, sekalipun orang tuaya seperti Kusni Kasdut. Atau biarpun orang tuanya dibenci orang karena tingkah lakunya, sifatnya, ketamakannya, kesadisannya dan sebagainya.

Kadang-kadang cita-cita diartikan angan-angan. Hal ini terjadi bahkan pada anak yang masih bersekolah di TK atau SD atau bahkan sebelum sekolah. Bila anak itu ditanya orang tua,”ingin jadi polisi!” atau “ingin jadi ABRI!” atau “ Penerbang”. Hal ini disebabkan polisi, ABRI, selalu tampak gagah dan tegap di matanya, sedangkan penerbang kelihatan hebat pada saat terbang melintas di udara.

Dapat disimpulkan bahwa:

Cita adalah hati; cita-cita adalah suatu keinginan yang terkandung di dalam hati. Karena itu cita-cita juga berarti angan-angan, keinginan, harapan, atau tujuan.

3. Makna Kebajikan

Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakikatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama atau etika.

Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik, makhluk bermoral. Atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik.

Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari tiga segi, yaitu: manusia sebagai pribadi, manusia sebagai anggota masyarakat, dan manusia sebagai makhluk Tuhan.

Manusia sebagai pribadi dapat menentukan baik-buruk. Yang menentukan baik-buruk itu suara hati. Suara hati itu semacam bisikan dalam hati untuk menimbang perbuatan baik atau tidak. Jadi suara itu merupakan hakim terhadap diri sendiri. Suara hati sebenarnya telah memilih yang baik, namun manusia seringkali tidak mau mendengarkan.

Demikian pula suara hati masyarakat, yang menentukan baik-buruk adalah suara hati masyarakat. Suara hati manusia adalah baik, tetapi belum tentu suara hati masyarakat menganggap baik. Sebagai anggota masyarakat, manusia tidak dapat membebaskan diri dari kemasyarakatannya.

Sebagai makhluk Tuhan, manusia pun harus mendengarkan suara hati Tuhan. Suara Tuhan selalu membisikkan agar manusia berbuat baik dan mengelakan perbuatan yang tidak baik. Jadi, untuk mengukur perbuatan baik-buruk, harus kita dengar pula suara Tuhan atau kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan berbentuk hukum agama atau hukum Tuhan.

Jadi kebajikan itu adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat dan hukum Tuhan. Kebajikan berarti berlaku sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang melihatnya.

Namun ada pula kebajikan semu, yaitu kejahatan yang berselubung kebajikan. Kebajikan semu ini sangat berbahaya, karena pelakunya orang-orang munafik, yang bermaksud mencari keuntungan diri sendiri.

4. Makna Sikap Hidup

Sikap hidup ialah keadaan hati dalam menghadapi hidup ini. Apakah kita mempunyai sikap yang positif atau negatif? Apakah kita mempunyai sikap optimis atau pesimis? Apakah kita mempunyai sikap apatis?

Sikap itu ada di dalam hati kita dan hanya kitalah yang tahu. Orang lain hanya baru tahu setelah kita bertindak.

Sikap itu penting; setiap manusia mempunyai sikap dan sudah tentu tiap-tiap orang berbeda sikapnya. Sikap dapat di bentuk sesuai dengan kemauan yang membentuknya. Pembentukan sikap ini terjadi melalui pendidikan. Seperti halnya seorang militer yang bersikap tegas, berdisiplin tinggi, sikap ksatria, karena dalam kemiliteran ia dididik ke arah sikap itu.

Dapat disimpulkan bahwa:

Sikap hidup adalah perasaan hati, dalam menghadapi hidup ini, sikap itu bisa positif, bisa negatif, bisa apatis, atau sikap optimis atau pesimis, bergantung kepada pribadi orang itu dan juga lingkungannya.

Setiap manusia mempunyai kadar sikap. Kadar sikap yang dimiliki manusia satu sama lain tidak sama. Sikap orang dapat berubah sekonyong-konyong karena situasi dan kondisi lingkungan.

5. Manusia dan Pandangan Hidup

Kalau ada orang yang punya prinsip bahwa kalau merasa dingin di waktu malam ataupun di pegunungan jangan dirasakan sangat menekan dan jangan diusahakan dilawan dengan selimut, tetapi tenangkan jalur urat-urat anda agar tidak terasa dingin. Ini bukan pandangan hidup (princeple) atau way of life, hanya satu di antara petunjuk-petunjuk melawan kedinginan atau kesegaran jasmani. Pandangan hidup berupa sesuatu penggaris yang mungkin dapat dinyatakan dengan kata-kata sebagai rumusan/formula, tetapi juga tak dapat dinyatakan dengan rumusan, sebab disamping:

a. Orang sulit menyusun perasaan, pikiran, dan kejiwaannya:

b. Juga karena ia sendiri menyadari bahwa mungkin ia dapat berbuat/bertindak yang melanggar prinsip-prinsip yang dikatakan.

c. Dan khawatir kalau-kalau ada kritik besar dan penyelewengan pandangan hidup dari anak-anak atau orang yang dibimbing.

Pandangan hidup merupakan suatu dasar atau landasan untuk membimbing kehidupan rohani dan jasmani, itu berguna bagi perorangan (individual), kelompok atau masyarakat, bahkan negara dan juga Undang-Undang serta peraturan-peraturan harus merupakan pancaran dari pandangan hidup yang sudah dirumuskan. Dalam kehidupan perseorangan menurut gambaran Drijarko S.J. mengatakan bahwa manusia itu serba terhubung dengan dunia jasmani sekitarnya, terhubung erat dengan masyarakat dan akhirnya manusia itu tergantung sseluruhnya pada yang ada, yang mutlak, yaitu Tuhan. Dengan demikian kita memperoleh beberapa ide atau pengertian-pengertian tentang manusia dan persoalan manusia yang sangat fundamental, yang bersifat hakiki, yang mau tidak mau menyangkut-pautkan setiap orang.

Pandangan hidup adalah juga filsafat hidup. Sesuai dengan arti filsafat yaitu cinta akan kebenaran tentulah bentuk kebenaran yang akan dicapai adalah kebenaran yang dapat diterima oleh siapa saja. Pandangan hidup dimiliki oleh semua orang atau semua golongan, maka penggolongan yang paling ringan adalah pandangan berdasar:
a. Beragama, beriman.
b. Tidak beragama tetapi mengikuti garis ajaran satu atau lebih dari agama yang ada.
c. Materialistik dan sekuler.

Daftar Pustaka :

Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta

Rabu, 09 Desember 2015

MANUSIA DAN KEADILAN



1. Makna Keadilan

       Manusia sebagai makhluk Tuhan adalah makhluk tertinggi yang memiliki gejala-gejala istimewa yang hanya terdapat pada manusia saja, dan tidak terdapat pada benda mati ataupun benda hidup seperti pada hewan ataupun pada tumbuh-tumbuhan. Gejala-gejala istimewa itu bisa kita golongkan menjadi tiga jenis yang di sebut akal, rasa, dan kehendak akal. Rasa dan kehendak ini menyatu dalam diri manusia yang terdiri atas manunggalnya jiwa dan raga yang kemudian menjadikan sumber-sumber kemampuan, kecerdasan ataupun kecakapan manusia dalam mengatur hidupnya.
       Manusia sebagai makhluk Tuhan memiliki sifat kodrat yaitu sifat kodrat perseorangan atau juga disebut makhluk pribadi (individu) dan sifat kodrat masyarakat atau disebut makhluk sosial. Di dalam istilah filsafat, kedua sifat kodrat manusia ini disebut sifat kodrat monodualis manusia. Ditinjau dari segi kepentingan hidupnya, manusia sebagai makhluk pribadi mengatur hubungannya untuk kepentingan diri sendiri, sedangkan manusia sebagai makhluk sosial mengatur hubungannya antara manusia yag satu dengan manusia yang lain atau sesama manusia. Tidak mungkin manusia bisa hidup sendiri tanpa hubungan dengan manusia yang lain, terakhir sebagai makhluk Tuhan, manusia mengatur hubungannya dengan Tuhan atau Prisma Causa. Di dalam mengatur hubungan kodrat manusia ini perlu adanya keserasian, keseimbangan, kesesuaian ataupun kesamaan dalam tingkah laku baik untuk kepentingan pribadi (individu) ataupun untuk kepentingan masyarakat. Kemampuan yang demikian itu menjelma sebagai tingkah laku adil yang kemudian menjadi tujuan umat manusia dalam mengatur kehidupannya. Oleh sebab itu tingkah laku adil atau keadilan menjadi tumpuan harapan manusia, semua orang menghendaki keadilan.
       Keadilan ialah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Jika kita mengakui hak hidup kita, maka kita wajib mempertahankan hak hidup tersebut dengan bekerja keras tanpa merugikan orang lain. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan bahwa orang lainpun mempunyai hak hidup seperti kita. Jika kita mengakui hak hidup orang lain itu untuk mempertahankan hak hidup kita sendiri. Jadi keadilan pada pokoknya terletak pada keseimbangan atau keharmonisan antara menuntut hak dan menjalankan kewajibannya (Drs. Suyadi M.P.1986).
       Apabila seseorang ataupun golongan hanya mementingkan hak dan kewajiban sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang lain ataupun golongan lainnya, tejadilah keadilan semu. Misalnya saja:
Pengusaha : Bagi mereka menamakan adil, apabila keuntungan terbesar terbesar jatuh pada pihak                           pedagang.
Buruh : Bagi buruh menganggap adil apabila upah dibayar pada waktunya dan keuntungan perusahaan juga dibagi wajar pada kaum buruh.
Golongan Demokrat : Menganggap adil apabila kepentingan rakyat selalu diutamakan.
Golongan Komunis : Menganggap adil sekiranya hak milik perseorangan ditiadakan.
Ditinjau dari bentuk ataupun sifat-sifatnya, keadilan dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis :
     1. Keadilan legal atau keadilan moral.
     2. Keadilan Distributif.
     3. Keadilan Komutatif.

2. Kejujuran dan Kebenaran
       Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya apa yang dikatakannya sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Untuk itu dituntut satu kata dan perbuatan, yang berarti bahwa apa yang dikatakan harus sama dengan perbuatannya. Karena itu jujur berarti juga menepati janji atau kesanggupan yang terlampir melalui kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam hati nuraninya yang berupa kehendak, harapan dan niat. Seseorang yang tidak menepati niatnyaberarti mendustai diri sendiri.
       Kebenaran atau benar dalam arti moral berarti tidak palsu, tidak munafik, yakni bila perkataannya sesuai dengan keyakinan batinnya atau hatinya. Suatu kebenaran sejati, berlaku bagi setiap orang yang mengetahui. Demikianlah ebenaran dan kejujuran yang dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi adalah kesadaran tentang akan sama hak dan kewajiban, serta rasa takut terhadap perbuatan salah atau dosa. Kesadaran moral adalah kesadaran tentang diri sendiri, kesadaran melihat dirinya sendiri berhadapan dengan pilihan hal yang baik dan buruk, yang halal maupun yang haram, atau yang boleh dan tidak boleh dilakukan meskipun dapat dilakukan. Kejujuran dan kebenaran merupankan landasan untuk keadilan.

3. Kecurangan

       Kecurangan atau curang identik dengan ketidakjujuran atau tidak jujur, dan sama pula dengan licik, meskipun tidak serupa benar. Sudah tentu kecurangan sebagai lawan jujur.
       Curang atau kecurangan artinya apa yang dikatakan tidak sesuai dengan hati nuraninya. Atau, orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa bertenaga dan usaha? Sudah tentu keuntungan itu diperoleh dengan tidak wajar. Yang dimaksud dengan keuntungan disini adalah keuntungan yang berupa materi. Mereka yang berbuat curang, menganggap akan mendatangkan kesenangan atau keenakan, meskipun orang lain menderita karenanya.
       Kecurangan menyebabkan manusia menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya, dan senang bila masyarakat disekelilingnya hidup menderita. Orang seperti itu biasanya tidak senang bila ada yang melebihi kekayaannya. Padahal agama apa pun tidak membenarkan orang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa menghiraukan orang lain, lebih pula mengumpulkan harta dengan jalan curang. Hal semacam itu dalam istilah agama tidak diridhoi Tuhan.

4. Pemulihan Nama Baik

       Nama baik merupakan salah satu tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih lebih jika ia menjadi teladan bagi orang/tetangga disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya.
       Tingkah laku atau perbuatan yang baik dengan nama baik itu pada hakikatnya sesuai dengan kodrat manusia, yaitu :
     1. Manusia menurut sifat dasarnya adalah makhluk moral.
     2. Ada aturan-aturan yang berdiri sendiri yang harus dipatuhi manusia untuk mewujudkan dirinya          sendiri sebagai pelaku moral tersebut.
       Pada hakikatnya, pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahnnya; bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan akhlak.
       Akhlak berasal dari bahasa Arab akhlaq, bentuk jamak dari khuluq dan dari akar kata khlaq yang berarti penciptaan. Oleh karena itu, tingkah laku dan perbuatan manusia harus disesuaikan dengan penciptaannya sebagai manusia. Untuk itu, orang harus bertingkah laku dan berbuat sesuai dengan akhlak yang baik.

5. Pembalasan

       Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang.
       Pembalasan itu ada yang bersifat positif dan ada yang bersifat negatif. Pembalasan yang bersifat positif ialah pembalasan yang dilakukan atas dasar saling menjaga dan menghargai hak dan kewajiban masing-masing.
       Dalam Al-Qur'an pun terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengadakan pembalasan. Bagi yang bertakwa kepada Tuhan diberikan pembalasan dan bagi yang mengingkari perintah Tuhan pun diberikan pembalasan dan balasan yang diberikan adalah balasan yang seimbang, yaitu siksaan di neraka.
Daftar pustaka : Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta

Rabu, 02 Desember 2015

MANUSIA DAN PENDERITAAN

1.MAKNA PENDERITAAN

          Penderitaan dari kata derita. Kata derita berasal dari kata bahasa sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan.penderitaan itu dapat lahir dan batin, atau lahir batin. Yang termasuk penderitaan itu antara lain keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan, dan lain-lain.
          Baik dalam Al-Qur’an maupun kitab suci agama lain banyak surat dan ayat yang menguraikan tentang penderitaan yang dialami manusia itu sebagai peringatan bagi manusia akan adanya penderitaan. Tetapi umumnya manusia itu kurang memperhatikan peringatan tersebut, sehingga manusia mengalami penderitaan.
          Karya shakespeare pun banyak mengungkapkan penderitaan batin yang  dialami para pelakunya. Dalam drama “Romeo and Juliet” pada dasarnya shakespeare ingin mengkomunikasikan penderitaan batin dua remaja yang saling dimabuk cinta. Kedua orang tua remaja itu bermusuhan, sehingga tak mungkin kedua remaja yang sudah seia dan sekata melanjutkan hubungannya ke jenjang pernikahan.
Dapat disimpulkan bahwa :
          Penderitaan tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Karena setiap orang akan/pernah mengalami penderitaan. Nasib malang atau penderitaan datang tak dapat ditolak, harus diterima apa adanya, kita pasrah kepada tuhan. Dengan mempelajari berbagai kasus penderitaan manusia berarti telah mempelajari sikap, nilai, harga diri, ketamakan, kesombongan dan sebagainya.

2.MAKNA SIKSAAN

          Berbicara tentang siksaan, maka terbayang pada ingatan kita tentang neraka dan dosa, dan akhirnya firman tuhan dalam kitab suci Al-Quran. Seperti kita maklumi di dalam kitab suci Al-Quran terdapat banyak sekali surat dan ayat yang membicarakan tentang siksaan ini.
          Berbicara tentang siksaan terbayang di benak kita sesuatu yang sangat mengerikan. Betapa tidak, di dalam benak kita terbayang seseorang yang tinggi besar, kokoh kuat dan dengan muka yang seram memegang cemeti yang siap dicambukkan ke orang yang disiksa.
          Siksaan tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Setiap manusia pernah atau akan menjalani siksaan. Siksaan tak dapat  dipisahkan dengan dosa. Siksaan yang berhubungan dengan dosa adalah siksaan di hari kiamat. Siksaan itu bisa berupa penyakit, siksaan hati, siksaan badan oleh orang lain dan sebagainya.

3.MAKNA RASA SAKIT

          Rasa sakit adalah rasa yang tidak enak bagi si penderita. Rasa sakit akibat menderita penyakit, atau sakit. Penyakit atau sakit sehingga ada rasa sakit, dapat menimpa setiap manusia hidup. Kaya miskin, besar kecil, tua muda, berpangkat atau rendahan tak dapat menghindarkan diri, bila telah tertimpa, orang bodoh atau orang pintar, bahkan seorang dokter sekalipun kalau sudah menderita sakit tak sanggup menghindarinya.
          Penderitaan, rasa sakit, dan siksaan merupakan rangkaian peristiwa yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan, merupakan rentetan sebab akibat.
          Rasa sakit banyak hikmahnya, antara lain dapat mendekatkan diri penderita kepada tuhan, dapat menimbulkan rasa kasihan terhadap penderita, dapat membuka rasa keprihatinan manusia, rasa sosial, dermawan dan sebagainnya.
          Tiap rasa sakit atau penyakit ada obatnya. Hanya tergantung kepada penderita atau keluarga penderita, apa ada usaha atau tidak. Bagi yang berusaha sungguh-sungguh dengan disertai mendekatkan diri kepada tuhan dan pasrah kepada-nya, maka tuhan akan mengabulkan doa dan usahanya.

4.NERAKA

          Berbicara tentang neraka, maka lazimnya kita tentu ingat kepada dosa. Juga terbayang dalam ingatan kita yang luar biasa. Tergambar pula dalam ingatan kita suatu rasa sakit dan penderitaan hebat.
          Manusia masuk neraka karena dosa. Oleh karena itu, bila kita bicara tentang neraka tentu berkaitan dengan dosa, berbicara tentang dosa berarti juga berbicara tentang kesalahan.
          Neraka berhubungan erat dengan dosa dan identik dengan salah atau kesalahan. Orang salah mendapat hukuman. Hukuman identik dengan siksaan. Siksaan adalah rasa sakit dan rasa sakit adalah penderitaan.

5.BEBERAPA KASUS PENDERITAAN

Penderitaan erat sekali hubungannya dengan hidup manusia, bahkan dapat berfungsi sebagai dinamisator kehidupan manusia. Persoalan yang muncul adalah mengapa manusia mengalami penderitaan, apakah penderitaan itu membahayakan kesehatan, dan bagaimana upaya menghindarkan penderitaan.
Contoh kasus penderitaan :
Kasus pertama
Ada seorang guru SD kelas enam, aminah namanya. Ia sudah bekerja sebagai guru selama 3 tahun, ia dikenal sebagai guru yang rajin dan disiplin. Ia berpendirian bahwa guru yang baik adalah adalah guru yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan tetapi membina kepribadian anak didiknya. Oleh karena itu anak-anak menyayanginnya.
          Akhir-akhir ini aminah jatuh sakit . orang-orang menduga aminah jatuh sakit karena pacarnya. Pacarnya yang seorang guru dipindahkan ke daerah lain. Ia sakit karena takut kehilangan pacarnya. Dugaan lainnya mengatakan aminah sakit karena tidak kuat menghadapi dua orang murid yang mengganggunya di kelas.
          Salah seorang murid itu mengganggu pikiran aminah, ialah si A. Anak ini sangat malas dan bersikap acuh terhadap pelajaran aminah. Murid yang lain ialah B, ia suka ngomong kepada murid lain untuk tidak menyukai pelajaran bu Aminah. Aminah sangat menderita di dalam batin aminah terjadi konflik, di satu pihak ia mencintai anak didiknya di lain pihak ia membencinya. Dalam kondisi semacam ini ia pernah marah kepada anak didiknya, karena begitu memuncak kemarahannya sehingga tidak dapat dikendalikan lagi.
Menyimak cerita pada kasus pertama dapat memperkirakan betapa hebatnya penderitaan ibu guru Aminah. Dari kasus ini dapat diamati bahwa penderitaan yang berat tak tertahankan lagi. Dapat meletus berupa luapan emosi dan tindakan yang eksplosif.

6.SUMBER PENDERITAAN

Manusia pada hakikatnya adalah mahluk hidup yang memiliki kepribadian yang tersusun dari perpaduan dan saling hubungan dan mempengaruhi antara unsur-unsur jasmani, dan rohani, dan karena itu penderitaan dapat pula terjadi pada tingkat jasmani maupun rohani.
          Dalam kehidupan sehari-hari rohani menjiwai, mendasari, dan memimpin unsur-unsur pribadi manusia. Rohani memiliki alat dan kemampuan. Alat dan kemampuan itu adalah :

1.    Nafsu
Nafsu adalah semua dorongan yang ditimbulkan oleh segala macam kebutuhan, termasuk pula instink, sehingga menimbulkan keinginan.
2.    Perasaan
Perasaan merupakan gejala psikis, perasaan yang menyangkut suasana batiniah manusia.
3.    Pikiran
Pikiran disebut juga akal, budi. Dimilikinya pikiran ini memungkinkan manusia mempertimbangkannya, membedakan, dan mengambil keputusan berdasarkan alasan-alasan tersendiri. 
4.    Kemauan
Kemauan disebut juga kehendak. Kemauan atau kehendak dalam diri manusia memungkinkan manusia untuk memilih.

7.UPAYA MENGHINDARKAN DIRI DARI PENDERITAAN

          Perilaku manusia sebagian besar merupakan pancaran perilaku yang telah dipelajari sebelumnya. Oleh karena itu perilaku manusia tidak pernah beku, dapat selalu berubah, dan dapat berbeda beda dari satu individu ke individu lain, dan dari satu saat ke saat yang lain. Dalam proses pembentukan kepribadiannya ini faktor enkulturasi dan sosialisasi memegang peranan yang penting
`        Kepribadian psikologis yang sehat dalam arti selalu berada dalam kondisi harmonis, stabil, dan sabar yang telah dibentuk sejak awal perkembangannya itu seharusnya tetap dibina sampai akhir hayatnya. Untuk dapat membina kondisi semacam itu diperlukan suatu pegangan atau suatu pedoman hidup. 

Daftar pustaka :

 Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta