Senin, 04 Januari 2016

MANUSIA DAN HARAPAN

1. Berbagai Contoh dalam Kehidupan

Mengenai harapan-harapan yang ada pada manusia, dapat diperhatikan informasi tentang sejarah tokoh-tokoh masyarakat, di antaranya adalah seorang Pahlawan Nasional : “Mohammad Husni Thamrin”. Menurut Anshar Ganggang dalam bukunya yang berjudul “Muhammad Husni Thamrin”, tokoh tersebut ketika masih kanak-kanak diharapkan agar oleh ibunya agar kelak diperolehnya kepandaian, dengan kepandaiannya itu diharapkan agar Mohammad Husni Thamrin dapat memikirkan kehidupan bersama di sekelilingnya. Bahkan dukun bayi yang membidani kelahiran tokoh itu menyebutnya dengan harapan agar kelak dicapainya pangkat yang lebih tinggi.

Yang perlu diperhatikan pada harapan Sang Ibu dalam informasi di atas ialah mengenai adanya kehidupan bersama di sekeliling Mohammad Husni Thamrin. Sang ibu kiranya memperhatikan keadaan kehidupan masyarakat sekitarnya; kehidupan masyarakat tersebut perlu dipikirkan karena keadaan yang menyedihkan sebagai akibat penjajahan. Keadaan yang menyedihkan itu tidak dapat lain pastilah keadaan yang menunjukkan situasi penderitaan.

Harapan sang ibu itu agaknya terkabul. Setelah Mohammad Husni Thamrin selesai menempuh pelajaran di lembagi pendidikan yang setingkat SD dan SMP, sebenarnya ia berkesempatan untuk meneruskan pelajaran di Koning Willem II yang setingkat SMA sekarang; tetapi di sekolah ini Mohammad Husni Thamrin tidak menamatkannya. Pemuda kelahiran 16 Februari 1894 itu kemudian bekerja sebagai pegawai pamong praja di Batavia. Tetapi ia tidak lam bekerja sebagai pegawai pamong praja.

Kemudian ia memilah lapangan pekerjaan sebagai karyawan perusahaan perkapalan milik belanda yang bernama KPM selama sepuluh tahun (1914-1924). Pada masa itulah Husni Thamrin berkenalan dengan Van Der Zee yang sering mengajaknya untuk berdiskusi mengenai masalah-masalah kemasyarakatan.

Dengan berlatar belakang pengalaman hidupnya sejak kecil yang senantiasa bergaul dengan masyarakat, Mohammad Husni Thamrin dapat menghayati penderitaan masyarakat sebagai akibat penjajahan. Oleh sebab itu, ia berusaha untuk membebaskan masyarakat dari penderitaannya itu. Dengan kata lain : Mohammad Husni Thamrin sebagai suatu subyek menghayati adanya penderitaan, dan karena itu ia mengembangkan harapan untuk melenyapkan penderitaan tersebut.

2. Nilai-nilai Budaya sebagai Tolok Ukur Harapan

Didalam hasil budaya yang berupa hasil sastra dapat dihayati adanya kandungan nilai budaya. Jika nilai budaya tersebut diangkat oleh penggubah/penulisnya, sebagai temuan sebagai gagasan utama, maka hasil sastra itu pada hakikatnya memantapkan harapan masyarakat yang ide-idenya “terwakili” dalam hasil sastra tersebut. Dalam hasil sastra Jawa, misalnya, antara lain terdapat nilai budaya yang meliputi :

(1) Nilai kejuangan dan semangat pengorbanan

(2) Nilai-nilai kerumahtanggaan

(3) Nilai-nilai kemandirian kaum wanita

Karya-karya yang memuat nilai-nilai kejuangan di antaranya adalah Serat Sewaka, Serat Wirawiyata, Serat Panitipraja, Serat Piwulang Becik, Serat Margawireja, Serat Wedhawara, dan sebagainya. Yang berkaitan dengan nilai-nilai kerumahtanggaan, misalnya : Serat Panitibaya, Serat Yajnyasusila, dan sebagainya, sedang yang bertalian dengan nilai kemandirian kaum wanita adalah Serat Warayagnya, Serat Rajabrana, dan sebagainya.

Kudangan pada dasarnya adalah kristalisasi aspirasi seorang ayah atau ibu mengenai dua hal, yakni (1) aspirasi mengenai sosok kemanusiaan yang diharapkan akan berkembang pada anaknya, dan (2) aspirasi mengenai tempat yang diharapkan akan dicapai oleh anaknya tadi dalam masyarakat. Oleh sebab itu, kedangan dirumuskan seseorang berdasarkan perbendaharaan nilai yang hidup dalam dirinya, dan juga dari persepsinya mengenai kenyataan-kenyataan yang ada dalam masyarakat.

Berdasarkan anggapan ini dapat dinyatakan bahwa apabila nilai-nilai pembangunan serta kenyataan-kenyataan sosial tentang pembangunan telah benar-benar mengendap dalam kesadaran orang tua, maka tentunya nilai-nilai dan wawasan pembangunan ini akan muncul dalam kudangan-kudangan mereka. “Kudangan modern” memperlihatkan mulai tertanamnya kesadaran pembangunan dalam masyarakat kita. Akan tetapi ini proses pertumbuhan manusia pembangunan terletak pada keseluruhan sifat-sifat pribadi yang dikembangkan secara sadar bersamaan dengan tumbuhnya pengetahuan serta ketrampilan. “Manusia Pembangunan” pada dasarnya adalah manusia yang atas kemauannya sendiri bersedia melakukan tindakan-tindakan untuk menyempurnakan sesuatu dalam hidupnya yang terasa masih kurang memadai.

3. Makna Harapan

Harapan berasal dari kata harap. Harapan artinya keinginan yang belum terwujud. Setiap orang mempunyai harapan. Tanpa harapan manusia tidak ada artinya sebagai manusia. Manusia yang tak mempunyai harapan berarti tak dapat diharapkan lagi.

Menurut kodratnya dalam diri manusia ada dorongan, yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup. Dorongan kodrat itu ialah menangis, tertawa, berpikir, berkata, bercinta, mempunyai keturunan, dan sebagainya.

Kebutuhan hidup ialah kebutuhan jasmani dan rohani. Kebutuhan jasmani ialah : pangan, sandang, dan papan. Sedangkan kebutuhan rohani meliputi kebahagiaan, kesejahteraan, kepuasan, hiburan, dan sebagainya.

Dalam mencukupi kebutuhan itu, baik kebutuhan kodrat maupun kebutuhan hidup, manusia tak dapat mencapai sendiri, melainkan harus dengan bantuan orang lain.

Berdasarkan dorongan kebutuhan kodrat dan kebutuhan hidup itu, maka orang mengharapkan agar kebutuhan hidup itu dapat terpenuhi. Sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhan manusia itu, Abraham Maslow mengkategorikan kebutuhan manusia menjadi lima macam. Lima macam kebutuhan itu merupakan lima harapan manusia. Lima macam harapan itu ialah:

1) Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup (survival).

2) Harapan untuk memperoleh keamanan (safety).

3) Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untuk mencintai dan dicintai (be living and love).

4) Harapan memperoleh status atau untuk diterima atau diakui lingkungan.

5) Harapan untuk memperoleh perwujudan dan cita-cita (self actualization).

4. Makna Kepercayaan

Kepercayaan berasal dari kata percaya, artinya mengakui atau meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. 

Ada ucapan yang sering kita dengar

- Ia tidak percaya pada diri sendiri.

- Saya tidak percaya ia berbuat seperti itu atau berita itu kurang dapat dipercaya akan kebenarannya.

- Kita harus percaya akan nasihat-nasihat kiai itu, karena nasihat-nasihat itu diambil dari ajaran Al-Quran dan sebagainya.

Dengan contoh berbagai kalimat yang sering kita dengar dalam ucapan sehari-hari itu, maka jelaslah kepada kita, bahwa dasar kepercayaan itu adalah kebenaran.

Berbagai Kepercayaan dan Usaha Meningkatkannya

Dasar kepercayaan adalah kebenaran. Sumber kebenaran adalah manusia. Karena itu, sesuai dengan contoh-contoh didepan, maka kepercayaan dapat dibedakan atas :

1) Kepercayaan pada diri sendiri

Kepercayaan padda diri sendiri itu perlu ditanamkan dalam setiap pribadi manusia. Percaya pada diri sendiri pada hakikatnya percaya pada Tuhan Yang Maha Esa. Percaya pada diri sendiri, menganggap dirinya tidak salah, dirinya menang, dirinya mampu mengerjakan yang diserahkan atau dipercayakan kepadanya.

2) Kepecayaan kepada orang lain

Percaya kepada orang lain itu dapat berupa percaya kepada saudara, orang tua, guru, atau siapa saja. Kepercayaan kepada orang lain itu sudah tentu percaya terhadap kata hatinya, perbuatan yang sesuai dengan kata hati, atau terhadap kebenarannya. Ada ucapan yang berbunyi orang itu dipercaya karena ucapannya. Misalnya, orang yang berjanji sesuatu itu dipenuhi, meskipun janji itu tidak terdengar orang lain, apalagi membuat janji kepada orang lain. Banyak contoh dalam kehidupan di mana suatu janji yang meskipun berat tetap dilaksanakan.

3) Kepercayaan kepada pemerintah

Berdasarkan pandangan theokratis menurut buku Etika Filsafat Tingkah Laku Prof. I.R. Poedjawiyatna, negara itu berasal dari Tuhan. Tuhan langsung memimpin dan memerintah bangsa manusia, atau setidak-tidaknya Tuhan adalah Pemilik Kedaulatan sejati, karena semua adalah ciptaan Tuhan. Semua pengemban kewibawaan, terutama pengemban tertinggi, yaitu raja, langsung dikaruniani kewibawaan oleh Tuhan, sebab langsung dipilih oleh Tuhan pula (kerajaan).

4) Kepercayaan kepada tuhan

Kepercayaan kepada tuhan Yang Maha Esa itu amat penting, karena keberadaan manusia itu bukan dengn sendirinya, tetapi diciptakan oleh Tuhan. Kepercayaan berarti keyakinan dan pengakuan akan kebenaran. Kepercayaan itu amat penting, karena merupakan tali kuat yang dapat menghubungkan rasa manusia dengan Tuhannya. Bagaimana Tuhan dapat menolong umatnya, apabila umat tidak mempunyai kepercayaan Tuhannya, sebab tidak ada lagi tali penghubung yang mengalirkan daya kekuatannya. Oleh karena itu jika manusia berusaha agar dapat pertolongan dari-Nya, manusia harus percaya kepada Tuhan, sebab Tuhanlah yang selalu menyertai manusia. Kepercayaan atau pengakuan akan adanya zat yang maha tinggi yang menciptakan alam semesta seisinya merupakan konsekuensinya tiap-tiap umat beragama/berkepercayaan dalam melakukan pemujaan kepada zat itu merupakan kebenaran mutlak. Perwujudannya terdapat dalam ikrar lisan yang dibenarkan dengan hati dan dilaksanakan dalam perbuatan (affirmation). Antara sesama penganut kepercayaan kepada Tuhan terjalin suatu batin yang kuat, sehingga tumbuh suatu persaudaraan umat seagama/sekepercayaan.
Daftar pustaka : Prasetya, Joko Tri (2013) ilmu budaya dasar. Jakarta: Rineka Cipta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar